Feeds:
Tulisan
Komentar

Tak Akan…

Robb,

Tak akan hamba biarkan kehormatan ini ternodai

Tak akan hamba biarkan kemuliaan diri ini tercampakkan

Tak akan hamba biarkan kulit hamba, mata hamba, hidung hamba, mulut hamba, rambut hamba bahkan seluruh anggota tubuh hamba ini tersentuh api neraka

Tak akan hamba izinkan hati ini terkotori nokta keburukan

Tak akan hamba sia-siakan amanah umur yang selama ini Engkau berikan

Tak akan hamba musnahkan anugerah samudera kenikmatan-kenikmatan-Mu ini hanya karena kesembronoan kufurku

Semua demi satu damba 

Untuk suatu saat nanti bisa merasakan kenikmatan hakiki bertemu dengan-Mu, Semoga…

Sendiri

Sendiri aku merenda hari
Hanya bersama sepi
Dan air mata
Sendiri aku obati luka hati
Sendiri aku membelai jiwa menghibur lara yang menikamku
Sendiri aku mengelus kesakitanku
Hanya di temani tawa surga putri kecilku
Bersama dia semua luruh
Bersama dia ahirnya aku sampai kini masih kokoh tetap berdiri walau badai terpaan badai cobaan menerjangku
Sendiri aku menata hari
Mencari ceria di antara mengajar
Berjamaah
Dengan segenap kegiatan rumah tangga
Ku coba enyahkan semua rasa nista
Sendiri ku seka airmataku
Sendiri aku tertatih mencari jalan damai
Sendiri aku mencoba meregang nyawa bersama ganasnya nafsu yang seringkali berusaha membunuh imanku
Sendiri aku memeluk diriku
Mencoba mencari hikmah di balik ayat-ayat suci Tuhan
Berharap ku temukan kedamaian dalam sepi sendiriku
Dalam kehampaan jiwaku
Sendiri aku tertawa
Menangis
Meratap
Menjerit
Tetap tegar seperti hari ini dan kemarin
Sendiri
Hanya sendiri
Tak ada yang menemani
Membelaiku ketika bersedih
Meluruhkan hasrat manusiaku ketika ia datang menggodaku
Menyeka aliran sungai kecil di sudut mataku
Sendiri…
Tak ada siapapun jua
Ku lalui hari demi hari sendiri
Hanya sendiri

Berjuang Untuk Islam

Perjuangan membutuhkan pengorbanan, baik secara moril maupun materil, apalagi pengorbanan demi terciptanya kemuliaan Islam, pantaslah kemudian Rosulullah SAW menggambarkan sebuah perumpamaan tentang hal tersebut bagaikan menggenggam bara di dalam telapak tangan, sehingga melahirkan sebuah dilema, yakni tetap bertahan menggenggamnya akan menimbulkan rasa perih yang tak terperi , akan tetapi sebaliknya kalau di lepaskan niscaya bara itu akan segera padam. Begitulah sedikit gambaran betapa menegakkan kemuliaan islam teramat berat, dan demi mewujudkan semua itu di perlukan keteguhan iman yang prima, kekokohan tekad yang kuat dan ketegaran prinsip yang teruji. Bagaimana tidak, untuk memadamkan kemuliaan Islam tak jarang setan beserta kroni-kroninya akan berusaha semaksimal mungkin dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan cara menawarkan kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan, gemerlap duniawi yang memukau atau kemuliaan yang semu, hingga pada ahirnya yang terjadi banyak manusia yang imannya lemah akan dengan mudah tergiur rayuan-rayuan maut tersebut kemudian mereka meligitimasikan semua perbuatan sesatnya itu, sebagai sebuah keyakinan yang benar.
Kadar keimanan seseorang memang cenderung fluktuatif, tak heran bila ada seseorang yang kemarin pagi begitu gigih memperjuangkan agama Islam dengan menolak berbagai macam godaan terindah sekalipun, tapi pada sore harinya tiba-tiba dia dengan tak berbalut malu membelot dari kebenaran hakiki, dengan tanpa menghiraukan lagi kehormatan dirinya, bahkan dengan lantang menyerukan ajakan pasukan Iblis yang di pertuannnya kepada orang lain. mengapa hal tersebut bisa terjadi ?! dan bagaimana kita bisa mengantisipasi diri kita dari keterpurukan iman seperti itu ?!, semua jawabannya ada dalam hadist nabi yang artinya : “Keimanan seseorang bisa bertambah dengan ketaatan ( patuh pada perintah-perintah agama ) dan keimanan seeorang bisa berkurang dengan kemaksiatan ( perbuatan yang menyalahi aturan agama ), kita bisa mengambil kesimpulan dari hadist tersebut bahwa jika kita menginginkan keimanan yang kokoh maka cintailah perbuatan baik sebagai wujud dari ketaatan kita pada aturan Alloh dan Rosul-Nya, walaupun tentu amatlah berat jiwa seseorang yang pada mulanya sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang di anggap tidak bermanfaat dalam agama tapi kemudian berbalik harus selalu menapaki jalur yang di ridloi Alloh dan Rosul-Nya tapi dengan berbekal tekad kuat, hawa nafsu yang cenderung pada perbuatan burukpun akan bisa di kendalikan walaupun dengan cara sedikit memaksa, tapi pada ahirnya apabila kita sudah terbiasa dan konsisten ( istiqomah ) menjalaninya Insya Alloh akan terciptalah kenikmatan dan ketenangan jiwa, bahkan akan sangat terasa kehampaan jiwa bila kita sesekali meninggalkan perbuatan baik yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari tersebut. Sebaliknya apabila seseorang membiarkan dirinya melakukan perbuatan maksiat maka tak heran jiwanya cenderung susah menerima nasihat bahkan pada perbuatan-perbuatan baikpun jiwanya akan enggan melakukannya, bahkan seluruh anggota tubuhnyapun tak bisa bangkit mendukung bahkan tak ada gairah dalam menjalaninya, ma’adzalloh…
Pada zaman yang serba kesulitan ini, baik kesulitan dalam mencari pekerjaan dan kesulitan dalam berbagai faktor ekonomi lainnya bahkan kesulitan dalam mendapatkan kesempatan baikpun sering menjadi celah yang menyebabkan terkikisnya nilai moralitas dan keimanan seseorang dalam menjalani konsistensi agama dan mensyiarkan ajaran-ajaran Islam. Terkadang ada seseorang yang berpandangan bahwa demi untuk menyelamatkan kelestarian dan keamanan hidup keturunannya maka mereka akan lebih memilih mundur atau membungkam mulutnya dengan tidak berani lantang dalam menyerukan kebenaran dan menentang kemungkaran, mereka bahkan dengan jiwa pengecutnya mengatakan : “biarlah orang lain saja yang berjuang untuk itu, kami akan mendukung mereka walau dalam hati saja”, padahal Alloh telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa umat Nabi Muhammad adalah sebaik-baik umat dengan catatan mereka berada di tengah-tengah manusia sebagai umat yang beriman yang menyerukan pada ornag lain untuk selalu berbuat baik dan menentang kemungkaran. Lalu, yang mejadi problema dalam agama adalah bagaimana bisa islam akan luhur dan akan lebih syiar apabila generasi penerusnya saja mempunyai prinsip memalukan seperti itu, dan bagaimana nasib masa depan agama Islam bila umatnya menjadi generasi pengecut tidak bernyali tangguh dalam membela agamanya atau aset-aset agamanya ( balai pendidikan yang berbasis agama Islam dan umatnya ). Bagaimana dia bisa mencetak kader yang gagah berani dalam membela Islam apabila orang tuanya sendiri berjiwa kerdil seperti itu, padahal yang seharusnya di lakukan adalah meredam segenap ketakutan kepada selain Alloh ketika dia berjuang membela agama Alloh, dengan menanamkan keyakinan bahwa berjuang demi mensyiarkan agama Islam merupakan kewajiban tiap individu yang menamakan dirinya muslim, dan sudah seharusnya dia sejak dini menyadari betapa perlunya menanamkan nilai-nilai perjuangan Islam pada keturunannya demi kejayaan Islam dan umatnya, karena siapa lagi orang yang bisa di andalkan untuk berjuang dalam menegakkan islam selain umat islam itu sendiri.
Idealisme religi seseorang seringkali porak poranda di terjang badai gelombang perasaan hati yang kotor ( iri, dengki, hasud, takabbur dan lain-lain ) di terpa dasyatnya ketakutan semu atau karena himpitan ekonomi.
Oleh karena itu, demi mencapai jiwa yang selalu konsiten pada kebaikan dan senantiasa menapaki alur syariat maka di butuhkan keteguhan iman dengan melatih jiwa agar senantiasa mencintai perbuatan baik dan selalu menanamkan prinsip di dalam jiwanya, bahwa pada ahirnya semua mahluk akan kembali pada Tuhan untuk mempertanggungjawabkan segala bentuk perbuatannya ketika di dunia, karena kehidupan di dunia hanya sementara, kehidupan dunia hanya sebagai sarana merintis kebahagiaan di ahirat kelak dan apapun bentuk kenikmatan dunia tidak akan abadi.
Semoga kita semua tergolong sebagai umat Nabi Muhammad yang terbaik yang selalu mendapat ridlo dan rahmat-Nya karena tetap berjuang demi kemuliaan dan kejayaan islam dan muslimin, amin ya robbal ‘alamin.

Peranan seorang wanita dalam rumah tangga sangat penting, baik sebagai seorang ibu maupun sebagai seorang istri. Rosululloh SAW telah bersabda dalam sebuah hadist : “تنكح النساء لأربعٍ: لمالها، ولحسبها، ولجمالها، ولدينها، فاظفَر بذات الدِّين تربت يداك”., mengapa sedemikian seriusnya beliau menggaris bawahi yang paling terbaik adalah wanita yang beragama bukan yang lainnya ?, jawaban di antaranya adalah : karena pendidikan seorang ibu pada anaknya tidak saja ketika sang anak sudah keluar dari rahim sang ibu, akan tetapi bagi seorang wanita beragama mendidik seorang anak di mulai ketika sang ibu sudah positip di nyatakan mengandung, dan dari semenjak itulah doa-doa dan pendidikan untuk anak mulai di terapkan, sehingga untuk berbuat hal-hal yang melanggar norma susila atau norma agamapun dia akan berfikir seribu kali dengan mempertimbangkan perkembangan dan pendidikan anak yang sedang dia kandung. Karena seorang anak, di lahirkan dari siapapun jua pada awalnya seputih kertas putih, jadi yang mewarnai apapun pada anak tersebut pada hakikatnya adalah kedua orang tuanya. Bagi seorang wanita beragama prinsip tersebut sudah tertanam sangat dalam semenjak dia memutuskan menjadi seorang istri bagi siapapun lelaki yang mendampinginya. Oleh karena itu penting bagi para lelaki ketika dia memutuskan akan menikah dengan seorang wanita, hendaknya yang menjadi pertimbangan utama adalah wanita yang beragama, karena wanita tersebut tidak saja kelak akan menjadi istrinya tapi juga akan menjadi bibit cikal bakal keturunannya, juga sebagai seorang pendidik dan suri tauladan bagi anak-anaknya. Tidak cukup sampai di situ. Sebagai seorang istripun perannya dalam mendampingi suami sangatlah penting, dan tentu saja bagi wanita yang mempunyai latar belakang pendidikan agama yang baik akan selalu mengedepankan tuntunan agamanya dalam memutuskan atau mempertimbangkan hal-hal apapun yang berkaitan dengan karir sang suami misalnya, masa depan anak-anaknya atau menerapkan etika ketika bergaul dengan segenap keluarga dan lingkungannya.
Hawa nafsu merupakan salah satu dari sekian banyak musuh yang patut di waspadai bagi siapapun juga ketika mengarungi kehidupan di dunia, baik dalam mengarungi bahtera rumah tangga atau lainnya, seseorang yang beragama pasti tahu akan hal itu dan dengan kendali pendidikan agama yang kuat seorang wanita bisa di harapkan menjadi managemen keluarga yang baik bagi rumah tangganya, sehingga dia bisa mewujudkan sebuah cita-cita yang di impikan setiap pasangan suami istri manapun, yakni dapat menciptakan sebuah rumah tangga yang berlabel “baitie jannatie”, sehingga baik itu suami atau anak-anaknya tak akan berlari menjauh dari rumah mereka ketika menghadapi peliknya masalah di luar rumah, dan mereka akan segera mencari surga dunianya yang teduh, mereka akan mencari kedamaian dari berbagai masalah kehidupan di luar rumah yang mendera, mereka akan segera berlari secepatnya ke rumah masing-masing demi menemukan keteduhan dan kedamaian bagi mereka.
Sungguh, salah satu kenikmatan terbesar di dunia bagi para lelaki adalah ketika mereka bisa mendapatkan sebuah anugerah yaitu mendapatkan istri yang sholihah yang mempunyai latar pendidikan agama yang tinggi. Damailah rumah tangganya, damailah masa depannya, masa depan anak-anaknya dan bahagialah kehidupan dunia ahiratnya.
Semoga tulisan ini bisa sedikit menjadi bahan perenungan bagi para lelaki dan bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para pria ketika mereka akan memutuskan sosok wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Keindahan fisik memang tidak dapat di pungkiri mampu menjadi suplemen dalam kehidupan rumah tangga begitupun masalah harta dan keturunan, akan tetapi cobalah untuk mentaati saran Rosulullah SAW bahwa hendaklah yang menjadi pertimbangan utama adalah wanita yang beragama, bukan lainnya, karena kecantikan seseorang pasti akan pupus seiring bergulirnya waktu, harta pun tak bisa di harapkan keabadiannya dan kuturunanpun hanya sedikit faktor yang tidak berpengaruh besar dalam rumah tangga seseorang, akan tetapi wanita yang mempunyai pengetahuan agama yang tinggi di harapkan akan menjadikan suami tentram dan bahagia baik lahir maupun batinnya dan mampu mencetak generasi penerus islam yang handal.
Bagi para lelaki, kalaupun memang ada dan mungkin bisa di raih alangkah lebih baiknya bila keempat faktor itu kesemuanya terdapat pada sosok calon istrinya yakni, dia seorang wanita yang cantik, kaya, dari keluarga terhormat dan mempunyai latar belakang pendidikan agama yang kuat, sehingga kuat kemungkinan sang suami mampu mewujudkan apapun impian dalam rumah tangganya dengan pendamping yang sempurna tersebut, akan tetapi apabila tidak di temukan keempat kriteria tersebut pada sosok calon istrinya hendaklah yang di jadikan pertimbangan utama adalah seorang wanita yang mempunyai pengetahuan agama yang tinggi, yang paling taat dalam menjalankan prinsip-prinsip agama dan yang mempunyai latar belakang keluarga yang beragama kuat, semua itu salah satu usaha demi mendapatkan sebuah keluarga yang penuh dengan ketenangan, penuh cinta kasih dan amanah dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari baik sebagai ibu bagi anak-anaknya atau untuk mendampingi sang suami ketika mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh dengan berbagai macam problema dalam kehidupan mereka.
Ya alloh, hamba memohon Engkau selalu membimbing dan menolong kami dengan rahmat dan fadhol-Mu agar kami dapat mewujudkan rumah tangga yang penuh kasih cinta, kasih, sayang, kedamaian dan amanat, yang bisa menjadi sarana ibadah kami di dunia demi meniti kebahagiaan di ahirat bersama ridlo-Mu,Allohumma Sholli ‘ala sayyidina Muhammad, amin.

Semua Demi Bunda

Bunda.

Di ujung gelisah, kulukis tiap garis wajah teduhmu

Ada rona kecewa yang terpancar dari rautmu

Karena menyimpan kerinduanmu padaku

Garis wajahmu melukiskan sejuta ketegaran yang begitu kukuh bersarang dalam jiwamu

Bunda,

Di sini

Dalam sepi sendiriku

Dalam kebisuan suasanaku

Ada rindu yang membuatku tergugu

Kusimpan isak perih air mata pada kedalaman batinku

Tiap pagi menjelang

Ku basuh luka dengan doa

Jika malam beranjak kelam

Ku usap air mata bersama lantunan ayat-ayat agung itu

Bunda,

Demi meraih ridlo-nya

Aku harus rela melakukan apapun yang di gariskan-Nya

Semua ananda persembahkan untukmu bunda

Walau seringkali realita ini menusuk perih jantungku

Darahnya telah mengering seiring hembusan nafasku yang semakin memburu

Sejuta cerita tentang  kerinduanku padamu tak pernah aku bisa ungkapkan dengan apapun itu

Engkau sendiripun tak pernah tahu

Bahwa betapa sakitnya

ananda harus jauh dari damai pelukmu

Surga belaianmu

Suara merdu nasihat-nasihatmu

Bunda,

Andai engkau tahu aku lakukan semuanya untuk kebahagiaanmu

Kelak

Walau aku harus relakan diriku hancur tak berbentuk olehnya

Tak apa…

Asal egkau bahagia pada ahirnya

Bunda,

di sini ananda selalu merindumu..

walau engkau tak pernah tahu

Tapi aku yakin suatu saat engkau akan tahu

tentang semua pengorbananku ini

yang ananda persembahkan untukmu

Harus Rela

Aku harus  rela berpisah dengan yang terindah
Aku harus rela di jauhkan dari yang tersayang
Aku harus rela menerima yang terpahit
Aku harus rela menapaki keletihan jiwa yang tak berujung
Aku harus rela melupakan siapakah diriku
Aku harus rela menafikan hasrat manusiawiku
Aku harus rela merangkai hari demi hariku dengan kehampaan jiwa
Aku harus rela selalu membasuh kesedihanku dengan airmata doa
Aku harus rela tersenyum. Terbahak, bahagia, ceria, siaga
Dalam segala yang bukan aku mau
Aku memang harus relakan apapun hadiah Tuhan untukku
Dalam bentuk realita segetir apapun
Karena aku hanyalah seorang mahluk yang tak punya pilihan
Karena pilihanku hanya taat  pada sang Kholiq…
Ku jalani semua tak demi apapun
Tapi memang aku hanyalah seorang mahluq yang tak pantas menolak apapun qodlo qodar-Nya
Khairihi wa syarrihi…
Untuk itu aku rela…
Walau pedih kerap memasungku
Walau sedih seringkali membekapku
Walau luka tak jarang menorehkan pedih yang tak terperi

dan sayatan luka yang tak terkata
Walau sesak dada tak jua berahir
Walau isak pilu selalu menghiasi hari-hariku
Demi sang Kholiq aku harus rela…

           Pada session kali ini kita akan membahas tentang masalah pacaran di lihat dari sudut pandang islam. Pacaran adalah suatu fenomena yang sudah menggejala bahkan bagaikan jamur di musim hujan, yang dilakukan oleh beberapa kalangan terutama lumrah terjadi di kalangan para kawula muda, sehingga terbentuk satu anggapan bahwa apabila ada seorang remaja yang tidak mempunyai pacar sama dengan remaja yang  ketinggalan zaman atau seorang yang tidak laku, sehingga memunculkan sikap saling lomba untuk mendapatkan pasangan, kaum wanitanya mencoba menebar pesona di antara kumbang-kumbang yang berkeliaran, dengan cara berjalan melenggak- lenggok bak seekor burung merak, menebar senyum semanis mungkin  atau dengan cara berpakaian yang di bikin semenarik mungkin, padahal Imam Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah meriwayatkan sebuah hadits yang artinya : “ lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barangsiapa yang meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati “.

          Dan kaum lelakipun tak kalah dalam upaya pencarian pasangan dengan cara menampilkan dirinya bak pangeran dalam  negeri dongeng, atau menggoda dengan cara menawarkan madu cinta yang bakal memabukkan pasangan wanitanya., hingga pada puncaknya keduanya saling memadu cinta atau biasa di sebut pacaran,.

          Pada dahulu kala, berpacaran ala binatang (kenapa saya katakan demikian, karena mereka berhubungan layaknya binatang bukan sebagai manusia yang berakal) kerap di lakukan hanya pada segelintir orang yang minim dalam pengetahuan agama, tapi ironisnya yang terjadi sekarang malah tidak pandang bulu, seseorang yang sangat faham atau  pandai ilmu  agamapun tak jarang melakukan hal yang sama, inikah pertanda kiamat sudah semakin dekat ? , karena kemaksiatan ternyata telah merata, merajalela  dan mewabah di mana-mana.

          Untuk memperdalam pemahaman kajian pacaran dalam perspektif islam, mari kita pelajari   lebih teliti sebuah firman Alloh SWT dalam surat Al-Isra: 32 , yang artinya : “  Dan janganlah kamu mendekati zina ; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk “.

          Dalam keterangan tafsir Nawawi di katakan bahwa : La taqrobuu,  bi ityaani muqoddimaatihi, artinya : yang di maksud dengan “janganlah mendekati “ adalah “janganlah mendekati zina dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi awal permulaan zina”,  dan pacaran merupakan salah satu sarana awal permulaan zina, sebab dalam berpacaran seringkali hasrat birahi seseorang selalu menuntut pemuasannya, baik dengan cara pertemuan atau pergi berduaan, dan bukan hal yang  mustahil pada ahirnya terjadilah perzinaan, padahal Nabi SAW  telah memperingatkan pada sebuah hadist yang artinya : “ janganlah seorang lelaki  berkhalwat ( berduaan di tempat sepi ) dengan seorang wanita, sebab setan akan menjadi pihak ketiga, dan janganlah seorang wanita berkhalwat dengan  lelaki kecuali di temani oleh mahromnya “( HR Imam Bukhari dan Muslim ).

          Memang tak dapat di pungkiri, bahwa sesungguhnya hal yang wajar dan normal apabila ada seorang wanita jatuh cinta pada lelaki, demikian sebaliknya, yang menjadi masalah di sini perlu adanya pemahaman di manakah seharusnya anugerah Ilahi berupa amanat cinta itu di letakkan ? tentu saja untuk keluar dari definisi dholim ( Wadh’u syai-in ilaa ghairi mahallih, artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, ket. Tafsir Jalalain), maka sudah sepatutnyalah seorang muslim mengikuti ajaran islam yakni dengan mempersembahkan cinta yang merupakan sunnatullah tersebut kepada sosok pendamping yang di ridloi Alloh SWT,  yaitu suami atau istri.

          Pada umumnya demi melegitimasi gaya hidup non islami tersebut , seringkali seseorang mengatakan pacaran adalah merupakan suatu hal yang  masih dalam batas kewajaran dan normal, apalagi bila  terjadi di kalangan  remaja yang memang sedang mengalami fasenya, mereka mengatakan ada kemanfaatan dari  semua itu,   bila dikatakan demikian, cobalah untuk  lebih banyak teliti dalam mengkalkulasi  antara manfaat dan mafsadat dari pacaran itu sendiri, seperti contoh : manfaat dari pacaran itu kemudian seseorang mempunyai semangat ekstra dalam menjalani kehidupan, tapi bukankah tak jarang akibat dari pacaran itu pula aktifitas sehari-hari menjadi terganggu, di sebabkan bayangan sang pacar kerap datang menggoda  tanpa mengenal kompromi pada apa yang sedang dilakukan saat itu, baik itu sedang belajar, mengaji, hendak beranjak tidur, mau makan, atau sedang melakukan akftifitas sholat, bahkan afat yang lebih parah lagi bisa terjadi apabila pasangan kemudian mengajak untuk mengadakan pertemuan, berduaan dan terjadilah perzinaan, baik  zina tangan yaitu dengan berpegangan tangan, zina mata yakni memandang lawan jenis dengan syahwat atau adegan-adegan yang lebih tabu daripada itu. Padahal  sebuah hadits Nabi SAW  mengatakan yang artinya : “ kedua mata bisa melakukan zina, kedua tangan itu ( bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina, dan kesemuanya itu akan di benarkan atau di ingkari oleh alat kelamin” (Hadits  sohih  di riwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas dan Abi Huarairah RA). Jadi dalam realitanya pacaran memang lebih banyak sisi negatifnya daripada sisi positifnya, atas dasar itulah kemudian Ulama memandang bahwa pacaran merupakan suatu bentuk kedzaliman atas amanat orang tua yang memerintahkan putra putrinya untuk lebih berkonsentrasi dalam belajar, misalnya terjadi pada pelajar,  dan wujud kedzaliman pada Alloh, karena telah salah dalam mempergunakan amanah umur, anugerah beberapa kenikmatan dan harta, yang semestinya hanya di pergunakan sebagai sarana beribadah kepada-Nya. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat  agamis, berpacaran akan mengundang fitnah bahkan tergolong perbuatan naïf, karena mau tidak mau orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan keislaman dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan ahlak yang berimbas pada kehancuran masa depan sang pelakunya, nau’udzu billahi min dzaalik.

          Untuk itu, marilah kita kembalikan fitrah kita sebagai sosok mahluk  yang mulia, dengan tidak melakukan hal apapun yang menodai kemuliaan fitrah tersebut yaitu perbuatan yang di cela baik secara moral maupun agama, sehingga kita terjerumus ke dalam jurang kehancuran penuh penyesalan.

          Dalam uraian syariat islam sebenarnya Alloh dan Rosul-Nya telah mengatur manusia sedemikian rupa, agar supaya dia dapat menjadi manusia yang seutuhnya manusia, tidak hanya berjasad manusia tapi juga berakhlak dan berperilaku sesuai dengan kodratnya sebagai manusia, karena selalu mempergunakan akal sebagai anugerah istimewa dari Tuhan bukan dengan mengedepankan hawa nafsu sebagaimana binatang. Dalam aturan islam telah jelas baik perintah maupun larangan Tuhan, telah tertata secara konkrit antara yang halal dan yang haram,. Larangan bila di langgar baik secara langsung maupun tidak akan berakibat negatif pada pelakunya begitupun perintah, akan membuat sang pelaku mendapatkan sesuatu yang positif. Sebagaimana pacaran yang merupakan muqoddimah zina bila terpaksa di lakukan maka dampak negatifnya akan di rasakan langsung oleh sang pelaku, ketika masih berada di dunia, di antaranya  berupa gelora hasrat yang terus menyiksa dia karena selalu menuntut pemuasan,  baik  dengan cara  mengadakan pertemuan, pergi berduaan dan lain sebagainya, dan di akhirat kelakpun tentu dia akan mendapatkan siksa Alloh yang amat pedih. Jadi, masihkah kita dengan rela hati akan membiarkan diri kita yang telah  di muliakan Alloh melebihi  malaikat dan iblis karena melakukan hal-hal yang akan merubah diri kita menjadi manusia yang rendah, yakni dengan melakukan  sesuatu hal yang kenikmatannya hanya  bisa di rasakan sesaat saja,  tapi jutru afatnya akan dirasakan dalam  dua alam yakni alam  dunia dan akhirat. Penghormatan Tuhan pada sosok manusia yang mulia hendaknya bisa tetap lestari hingga masa pertemuan dengan-Nya di akhirat kelak, jangan malah justru  lebih tergoda pada sosok lelaki atau bermoral bejad yang mencoba menawarkan madu cinta yang pada hakikatnya adalah racun, cobalah berfikir secara cerdas bahwasanya  lelaki yang berperangai demikian sesungguhnya sosok pria bermoral rendah yang tidak bisa menjunjung harkat kehormatan wanita, tentu saja kalau dia adalah sosok  yang berahlak mulia niscaya apabila dia mencintai seorang wanita, dia akan melegalkannya dengan cara terhormat, sesuai dengan syariat yang di ridloi Alloh dan Rosul-Nya yakni dengan cara mengkhitbah untuk kemudian menikahinya secara islam.

        Jadi, etika pergaulan dalam islam khususnya antara lelaki dan wanita pada garis besarnya sebagai berikut  :

1.  Saling menjaga pandangan antara laki-laki dan wanita, tidak memandang dengan nafsu, tidak boleh    melihat  aurat, tidak boleh melihat lawan jenis, melebihi yang di butuhkan (QS. An-Nuur : 30-31)              2.  Sang wanita wajib memakai pakaian yang sesuai dengan syariat, yaitu pakaian yang menutupi seluruh        tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (QS. An-Nuur : 31)                                                                                3.  Hendaknya bagi wanita agar selalu menggunakan adab yang islami ketika bermuamalah dengan lelaki seperti   :                                                                                                                                                                         Di waktu mengobrol hendaknya ia menjauhi perkataan merayu dan menggoda (QS. Al-Ahzab: 32)            Di waktu berjalan hendaknya wanita sesuai dengan apa yang tertulis dalam surat An-Nuur : 31.

Demikian ajaran Islam menekankan keharaman mutlak  atau murni (harom tanzih) pada masalah pacaran dengan legitimasi dalil berbentuk apapun, berdasarkan beberapa uraian Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sudah kita baca diatas dan keterangan-keterangan  lain yang semuanya tidak dapat saya jelaskan di sini.

          Untuk semua itu marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada Alloh SWT, agar supaya kita selalu di jaga selama-lamanya  dari berbagai bentuk kemaksiatan, selalu dijaga iman islam kita dan selalu di beri rahmat dan ridlo-Nya baik di dunia maupun di akhirat, amin ya robbal ‘alamin.

Sebagian besar manusia tidak dapat berfikir secara jernih, walaupun ada pada mereka anugerah ilmu dan akal yang sempurna, penyebab salah satunya adalah karena kebersihan hati yang ternodai, baik dengan adanya sifat-sifat yang tercela seperti iri, hasud, dengki dll. Sehingga kejernihan akal dan ilmu tidak dapat membedakan mana yang benar mana yang salah, atau ketika di hadapkan pada dua pilihan, dia tidak dapat memutuskan mana yang harus menjadi skala prioritas.Bisa pula yang menjadi penyebabnya adalah karena hawa nafsu yang telah menguasai dirinya.
Seringkali akal kita membenarkan bila melihat sesuatu yang salah atau yang akan dilakukan itu sesuatu yang melanggar norma-norma agama, tapi seringkali pula akal kita di kalahkan oleh nafsu, sehingga kita kemudian tidak mau mendengarkan nurani kita yang berkali-kali menganjurkan kita untuk segera meninggalkannya, nurani kita memanggil-manggil untuk kita segera bangkit melakukannya dan nurani kita mengatakan bahwa bila hal tsb di abaikan maka penyesalanlah yang akan kita telan pada ahirnya.
Dapat kita saksikan pada fenomena kehidupan manusia pada umumnya ketika ada pengumuman sembako gratis, pembagian zakat atau sumbangan-sumbangan sosial, akan dengan segera mereka datang berbondong-bondong bahkan sampai nyawapun rela dipertaruhkan demi mendapatkan semua itu, tapi ironisnya ketika ada panggilan adzan, sebagaimana kita ketahui bahwa itu adalah panggilan untuk mendapatkan keuntungan ukhrowi, karena dengan jelas terdengar pada salah satu kalimat pada adzan tsb yaitu : hai’alal falaah… yang bisa diartikan dengan beberapa kalimat : mari kita menuju kebahagiaan, atau kejayaan, atau kemenangan, tapi coba kita tengok tak banyak di antara kita yang menyadari bahwa sebenarnya itu adalah panggilan Tuhan yang di tujukan kepada manusia untuk pembagian kekayaan ahirat, agar manusia selamat dari kepailitan di ahirat kelak atau untuk menjaga manusia dari kemungkaran dan kejelekan karena “ inna ash-sholaata tanha ‘anil fahsyaa-i wal munkar “ (sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar, Al-Ankabut 45), Hanya sedikit dari manusia yang mendapatkan anugerah bisa mendengar panggilan kebahagiaan tersebut sehingga dengan segera dia mengambil air wudlu kemudian berpakaian rapih dan segera menghadap kiblat untuk menuju kemenangan itu, menang dari hawa nafsu, atau menuju kebahagiaan karena dia berbahagia telah menjadi salah seorang yang mendapatkan pahala di sisi Alloh SWT, dan menuju kejayaan, berjaya karena dia termasuk salah seorang yang bergelimang kekayaan di ahirat kelak dengan mendapatkan anugerah rahmat dan ridlo-Nya.
Satu contoh lagi yaitu, ketika ada panggilan untuk belajar ( sekolah atau belajar mengaji-belajar ilmu agama- ), pada hakikatnya itu adalah panggilan untuk seseorang mendapatkan ilmu, ilmu untuk bekal menyempurnakan ibadah, karena ibadah tanpa ilmu sia-sia dan ilmu tanpa ibadah bagaikan pohon tak berbuah.
Anehnya kebanyakan dari kitapun tidak menyadari hakikat hal tsb, dengan berbagai macam alasan kita ringan-ringan saja ketika mengabaikannya, jadi mengapa kalau ada pembagian pahala dan ilmu kita enggan segera menyambutnya tapi kalau ada pengumuman pembagian barang gratis atau pembagian uang dengan segera kita mendatanginya ?, apakah karena mata batin kita sangat tertutup dengan gemerlap duniawi.
Padahal tak sekali Alloh memperingatkan manusia untuk berhati-hati pada hawa nafsu, di antara warning itu terdapat pada surat Yusuf ayat 53 yang artinya : sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.
Memang tak cukup kebeningan hati dapat kita genggam hanya dengan berbekal akal dan ilmu semata, karena tak jarang kita temukan seseorang yang mempunyai akal sehat ataupun mempunyai ilmu yang tinggipun bisa mengabaikan tatanan syariat Tuhan di sebabkan tergoda oleh bujuk rayu syaitan.
Iblis pernah memberikan satu pernyataan sumpah di hadapan Tuhan, ketika dia di usir oleh Tuhan dari surga dan akan menjadi mahluk yang selalu mendapatkan laknat sehingga di ahirat nerakalah tempat yang Tuhan sediakan untuk kediamannya kelak. Saat mendengar kutukan tersebut spontan iblis bersumpah dia akan menjerumuskan semua anak cucu Adam, terkecuali hamba-hamba Tuhan yang berhati bersih atau biasa di kenal dengan istilah ikhlas, keterangan tersebut dapat di baca secara jelas dalam Al-Quran surat Al-Hijr 39.
Hati yang ihlash sangat mungkin di raih bagi orang-orang yang senang berbuat kebaikan (muhsinin), dan orang-orang yang senang berbuat kebaikan mempunyai potensi yang cukup besar dalam mendapatkan rahmat dan ridlo dari-Nya, sehingga bukan hal yang tidak mungkin dengan bekal rahmat dan ridlo-Nya manusia bisa mempunyai hati yang bersih sehingga amal bisa di terima dengan mulus ketika di haturkan di hadapan Alloh SWT yang maha kuasa. Sebagaimana firman Tuhan yang terdapat pada suratAl-‘A’rof 56, yang artinya : “Sesungguhnya rahmat Alloh sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”.
Dengan kebeningan hati, kita dapat melihat secara jelas hal apa saja yang patut kita hindari dan yang harus kita kerjakan.Untuk mendapatkan hati yang bersih sudah barang tentu dengan cara berusaha sekuat kemampuan kita, juga dengan cara memohon (berdoa) pada Dzat yang menciptakan hati. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal tentu kita harus menjauhkan diri kita dari perasaan jenuh, bosan atau putus asa dalam berusaha dan berdoa, karena putus asa adalah musuh keberhasilan apalagi putus asa dalam mengharapkan rahmat-Nya, karena hal tersebut sungguh sebuah larangan keras, seperti firman-Nya yang terdapat pada Al-Qur’an surat : Yusuf 87, Artinya : Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Alloh, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Alloh, hanyalah orang-orang kafir.
Semoga kita senantiasa terhindar dari bujuk rayu syaitan dan di masukkan ke dalam golongan orang-orang yang berhati bersih, minashiddiqiin wasy-syuhada’ wash-shoolihiin, amin.

Bersyukur

Selalu bersyukur memang benar-benar tidak hanya mendapatkan kenikmatan yang berlipat ganda tapi  juga ternyata ada jutaan karunia lain terpancar darinya, di antaranya adalah menjadikan jiwa tenang sehingga mewujudkan rasa optimisme dalam menghadapi berbagai macam tantangan dunia. Bersyukur juga mampu memupuskan kesedihan dan keresahan yang mengganggu jiwa sehingga melahirkan semangat hidup yang menyala-nyala.

Dalam menjalani hidup aku selalu berusaha untuk melakukan itu, dalam menjalani titian umur yang semakin hari semakin berkurang kucoba dan terus ku coba menjalani peran apapun yang di takdirkan-Nya, aku berusaha sekuat tenagaku untuk memanfaatkan sisa amanat umur yang Tuhan berikan padaku untuk mengais bekal di ahirat kelak, hingga ahirnya dalam menjalani hidup ini,a ku mencoba menanamkan prinsip sumeleh (mengalir) seperti air, kenapa ?!, karena buat apa aku meronta kemudian mencoba melarikan diri dari semua itu, sudah barang tentu yang aku pilih akan lebih buruk daripada pilihan hidup yang Tuhan tentukan padaku saat itu.Karena ilmuku yang tak seberapa tentang apapun tak akan bisa menandingi ilmu-Nya, bukankah kata Tuhan ” boleh jadi kamu tidak  menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu padahal itu tidak baik bagimu,. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ” ( Al-Baqoroh 216). Berontak dari takdir hanya akan semakin membuat jiwa semakin gelisah dan mengerucutkan rasa putus asa.Ketika tekanan hidup semakin membuatku tak bisa bernafas aku mencoba menghibur diri dengan berfikir seperti ini, dengan untaian doa : semoga saja derita hidup yang sedang aku jalani ini sebagai satu tiket dari Tuhan yang di anugerahkan padaku demi mendapatkan satu posisi kemulyaan di ahirat kelak, jadi aku anggap semua itu sebagai bentuk tirakatku di dunia demi mencapai ridlo-Nya, semoga saja aku lulus karenanya, Aku mohon,  bantu aku wujudkan semua itu dengan ijabah-Mu ya Robb, amin.

Memang, walau tak sekali jiwaku mencoba berontak,  tapi segera aku tekan dan aku hibur dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan religiku, seraya meningkatkan rasa syukurku, dengan cara mengingat-ingat beberapa kenikmatan yang selama ini Tuhan anugerahkan kepadaku dan dengan merenungi betapa banyaknya penderitaan orang lain,yang dosisnya ternyata lebih tinggi daripada aku, hingga ahirnya kemudian mencapai ujung kesimpulan dalam alam fikirku,  duuh.. betapa beruntungnya aku selama ini, dengan keadaan yang aku jalani saat ini . Pertanyaannya, untuk apa aku selalu menyuburkan perasaan-perasaan seperti itu ?, apa faidahnya ?, tentu agar supaya jiwaku lebih tenang.  Hai ?, bukankah berontak dari pilihan-Nya itu tidak saja membuat raga terhina tapi juga menjadikan jiwa ternoda !. So, aku mencoba menikmati apapun peran yang sedang dipilihkan Tuhan untukku dan aku berusa menjalaninya dengan penuh rasa tanggung jawab, walau tak sekali aku mengalami nistanya emosi yang menjadikanku layaknya binatang, karena seakan tak berilmu dan berakal.

Dalam menjalani hidup, aku tak berani memasang target apapun, jadi dalam bercita-cita ku coba selaraskan semuanya dengan takdir yang sedang ku jalani saat itu, karena aku bukan sosok manusia yang siap menerima tantangan dan amarah Tuhan karena telah mencoba menghianati-Nya dengan berpaling dari takdir-Nya.

Semoga saja Tuhan selalu membimbingku, menolongku dan menyayangiku dalam keadaan apapun yang menimpaku, dalam menjalani takdir baik burukku dari Dzat yang maha baik, amin…

 

Pada Siapa

Robb… Aku kembali datang pada-Mu Mengadukan jutaan dukaku

Dalam deras air mataku Aku mencoba menekan kuat rasa itu

Aku mencoba menghangus habiskan rasa kemanusianku

Ku coba hadirkan diri-Mu dalam tiap desah nafasku

Demi mencari damai dalam gersang gelisahku

Sendiri aku mencari jawab dalam gelapku

Terengah-engah aku menahan beratnya beban batinku

Pada siapa aku mencari damai karena resahku

Pada siapa aku mengadu karena hantaman cobaan-cobaan-Mu

Pada siapa kau bersandar dalam kerapuhan imanku

Pada siapa aku melepas penat yang menyengat karena polusi godaan-godaan iblis itu

Pada siapa aku mencari teduh karena terik nafsuku

Pada siapa aku luruhkan segenap hasrat manusiaku

Ketika ia datang menawanku

Pada siapa aku berbagi canda dan tawa dalam bahagiaku

Pada siapa aku bertukar cerita duka ketika ia mencoba mencekeramku

Pada siapa aku meminta dalam kefakiran segalaku

Aku terpekur layu

Aku tertunduk lesu

Aku terdiam bisu

Aku tergugu dalam tangis yang tak jua berhenti

Menguap semua tanyaku

Dalam keheningan hari-hariku

Tak ada yang mampu menjawabnya

Lalu ku coba mencari jawabnya pada deretan kalam-Mu

Ku rengkuh ia dalam akalku

Ku coba menelan pelan-pelan

Untuk aku rasakan betapa nikmat semua itu

Ketika itu

Ketika aku lelah menjajakan tanya

Ku temukan satu jawaban

Ternyata hanya Engkaulah satu-satunya yang mampu memenuhi segalaku

Tak ada yang lain

Tulisan Sebelumnya »