Pacaran Dalam Perspektif Islam
Pada session kali ini kita akan membahas tentang masalah pacaran di lihat dari sudut pandang islam. Pacaran adalah suatu fenomena yang sudah menggejala bahkan bagaikan jamur di musim hujan, yang dilakukan oleh beberapa kalangan terutama lumrah terjadi di kalangan para kawula muda, sehingga terbentuk satu anggapan bahwa apabila ada seorang remaja yang tidak mempunyai pacar sama dengan remaja yang ketinggalan zaman atau seorang yang tidak laku, sehingga memunculkan sikap saling lomba untuk mendapatkan pasangan, kaum wanitanya mencoba menebar pesona di antara kumbang-kumbang yang berkeliaran, dengan cara berjalan melenggak- lenggok bak seekor burung merak, menebar senyum semanis mungkin atau dengan cara berpakaian yang di bikin semenarik mungkin, padahal Imam Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah meriwayatkan sebuah hadits yang artinya : “ lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barangsiapa yang meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati “.
Dan kaum lelakipun tak kalah dalam upaya pencarian pasangan dengan cara menampilkan dirinya bak pangeran dalam negeri dongeng, atau menggoda dengan cara menawarkan madu cinta yang bakal memabukkan pasangan wanitanya., hingga pada puncaknya keduanya saling memadu cinta atau biasa di sebut pacaran,.
Pada dahulu kala, berpacaran ala binatang (kenapa saya katakan demikian, karena mereka berhubungan layaknya binatang bukan sebagai manusia yang berakal) kerap di lakukan hanya pada segelintir orang yang minim dalam pengetahuan agama, tapi ironisnya yang terjadi sekarang malah tidak pandang bulu, seseorang yang sangat faham atau pandai ilmu agamapun tak jarang melakukan hal yang sama, inikah pertanda kiamat sudah semakin dekat ? , karena kemaksiatan ternyata telah merata, merajalela dan mewabah di mana-mana.
Untuk memperdalam pemahaman kajian pacaran dalam perspektif islam, mari kita pelajari lebih teliti sebuah firman Alloh SWT dalam surat Al-Isra: 32 , yang artinya : “ Dan janganlah kamu mendekati zina ; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk “.
Dalam keterangan tafsir Nawawi di katakan bahwa : La taqrobuu, bi ityaani muqoddimaatihi, artinya : yang di maksud dengan “janganlah mendekati “ adalah “janganlah mendekati zina dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi awal permulaan zina”, dan pacaran merupakan salah satu sarana awal permulaan zina, sebab dalam berpacaran seringkali hasrat birahi seseorang selalu menuntut pemuasannya, baik dengan cara pertemuan atau pergi berduaan, dan bukan hal yang mustahil pada ahirnya terjadilah perzinaan, padahal Nabi SAW telah memperingatkan pada sebuah hadist yang artinya : “ janganlah seorang lelaki berkhalwat ( berduaan di tempat sepi ) dengan seorang wanita, sebab setan akan menjadi pihak ketiga, dan janganlah seorang wanita berkhalwat dengan lelaki kecuali di temani oleh mahromnya “( HR Imam Bukhari dan Muslim ).
Memang tak dapat di pungkiri, bahwa sesungguhnya hal yang wajar dan normal apabila ada seorang wanita jatuh cinta pada lelaki, demikian sebaliknya, yang menjadi masalah di sini perlu adanya pemahaman di manakah seharusnya anugerah Ilahi berupa amanat cinta itu di letakkan ? tentu saja untuk keluar dari definisi dholim ( Wadh’u syai-in ilaa ghairi mahallih, artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, ket. Tafsir Jalalain), maka sudah sepatutnyalah seorang muslim mengikuti ajaran islam yakni dengan mempersembahkan cinta yang merupakan sunnatullah tersebut kepada sosok pendamping yang di ridloi Alloh SWT, yaitu suami atau istri.
Pada umumnya demi melegitimasi gaya hidup non islami tersebut , seringkali seseorang mengatakan pacaran adalah merupakan suatu hal yang masih dalam batas kewajaran dan normal, apalagi bila terjadi di kalangan remaja yang memang sedang mengalami fasenya, mereka mengatakan ada kemanfaatan dari semua itu, bila dikatakan demikian, cobalah untuk lebih banyak teliti dalam mengkalkulasi antara manfaat dan mafsadat dari pacaran itu sendiri, seperti contoh : manfaat dari pacaran itu kemudian seseorang mempunyai semangat ekstra dalam menjalani kehidupan, tapi bukankah tak jarang akibat dari pacaran itu pula aktifitas sehari-hari menjadi terganggu, di sebabkan bayangan sang pacar kerap datang menggoda tanpa mengenal kompromi pada apa yang sedang dilakukan saat itu, baik itu sedang belajar, mengaji, hendak beranjak tidur, mau makan, atau sedang melakukan akftifitas sholat, bahkan afat yang lebih parah lagi bisa terjadi apabila pasangan kemudian mengajak untuk mengadakan pertemuan, berduaan dan terjadilah perzinaan, baik zina tangan yaitu dengan berpegangan tangan, zina mata yakni memandang lawan jenis dengan syahwat atau adegan-adegan yang lebih tabu daripada itu. Padahal sebuah hadits Nabi SAW mengatakan yang artinya : “ kedua mata bisa melakukan zina, kedua tangan itu ( bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina, dan kesemuanya itu akan di benarkan atau di ingkari oleh alat kelamin” (Hadits sohih di riwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas dan Abi Huarairah RA). Jadi dalam realitanya pacaran memang lebih banyak sisi negatifnya daripada sisi positifnya, atas dasar itulah kemudian Ulama memandang bahwa pacaran merupakan suatu bentuk kedzaliman atas amanat orang tua yang memerintahkan putra putrinya untuk lebih berkonsentrasi dalam belajar, misalnya terjadi pada pelajar, dan wujud kedzaliman pada Alloh, karena telah salah dalam mempergunakan amanah umur, anugerah beberapa kenikmatan dan harta, yang semestinya hanya di pergunakan sebagai sarana beribadah kepada-Nya. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, berpacaran akan mengundang fitnah bahkan tergolong perbuatan naïf, karena mau tidak mau orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan keislaman dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan ahlak yang berimbas pada kehancuran masa depan sang pelakunya, nau’udzu billahi min dzaalik.
Untuk itu, marilah kita kembalikan fitrah kita sebagai sosok mahluk yang mulia, dengan tidak melakukan hal apapun yang menodai kemuliaan fitrah tersebut yaitu perbuatan yang di cela baik secara moral maupun agama, sehingga kita terjerumus ke dalam jurang kehancuran penuh penyesalan.
Dalam uraian syariat islam sebenarnya Alloh dan Rosul-Nya telah mengatur manusia sedemikian rupa, agar supaya dia dapat menjadi manusia yang seutuhnya manusia, tidak hanya berjasad manusia tapi juga berakhlak dan berperilaku sesuai dengan kodratnya sebagai manusia, karena selalu mempergunakan akal sebagai anugerah istimewa dari Tuhan bukan dengan mengedepankan hawa nafsu sebagaimana binatang. Dalam aturan islam telah jelas baik perintah maupun larangan Tuhan, telah tertata secara konkrit antara yang halal dan yang haram,. Larangan bila di langgar baik secara langsung maupun tidak akan berakibat negatif pada pelakunya begitupun perintah, akan membuat sang pelaku mendapatkan sesuatu yang positif. Sebagaimana pacaran yang merupakan muqoddimah zina bila terpaksa di lakukan maka dampak negatifnya akan di rasakan langsung oleh sang pelaku, ketika masih berada di dunia, di antaranya berupa gelora hasrat yang terus menyiksa dia karena selalu menuntut pemuasan, baik dengan cara mengadakan pertemuan, pergi berduaan dan lain sebagainya, dan di akhirat kelakpun tentu dia akan mendapatkan siksa Alloh yang amat pedih. Jadi, masihkah kita dengan rela hati akan membiarkan diri kita yang telah di muliakan Alloh melebihi malaikat dan iblis karena melakukan hal-hal yang akan merubah diri kita menjadi manusia yang rendah, yakni dengan melakukan sesuatu hal yang kenikmatannya hanya bisa di rasakan sesaat saja, tapi jutru afatnya akan dirasakan dalam dua alam yakni alam dunia dan akhirat. Penghormatan Tuhan pada sosok manusia yang mulia hendaknya bisa tetap lestari hingga masa pertemuan dengan-Nya di akhirat kelak, jangan malah justru lebih tergoda pada sosok lelaki atau bermoral bejad yang mencoba menawarkan madu cinta yang pada hakikatnya adalah racun, cobalah berfikir secara cerdas bahwasanya lelaki yang berperangai demikian sesungguhnya sosok pria bermoral rendah yang tidak bisa menjunjung harkat kehormatan wanita, tentu saja kalau dia adalah sosok yang berahlak mulia niscaya apabila dia mencintai seorang wanita, dia akan melegalkannya dengan cara terhormat, sesuai dengan syariat yang di ridloi Alloh dan Rosul-Nya yakni dengan cara mengkhitbah untuk kemudian menikahinya secara islam.
Jadi, etika pergaulan dalam islam khususnya antara lelaki dan wanita pada garis besarnya sebagai berikut :
1. Saling menjaga pandangan antara laki-laki dan wanita, tidak memandang dengan nafsu, tidak boleh melihat aurat, tidak boleh melihat lawan jenis, melebihi yang di butuhkan (QS. An-Nuur : 30-31) 2. Sang wanita wajib memakai pakaian yang sesuai dengan syariat, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (QS. An-Nuur : 31) 3. Hendaknya bagi wanita agar selalu menggunakan adab yang islami ketika bermuamalah dengan lelaki seperti : Di waktu mengobrol hendaknya ia menjauhi perkataan merayu dan menggoda (QS. Al-Ahzab: 32) Di waktu berjalan hendaknya wanita sesuai dengan apa yang tertulis dalam surat An-Nuur : 31.
Demikian ajaran Islam menekankan keharaman mutlak atau murni (harom tanzih) pada masalah pacaran dengan legitimasi dalil berbentuk apapun, berdasarkan beberapa uraian Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sudah kita baca diatas dan keterangan-keterangan lain yang semuanya tidak dapat saya jelaskan di sini.
Untuk semua itu marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada Alloh SWT, agar supaya kita selalu di jaga selama-lamanya dari berbagai bentuk kemaksiatan, selalu dijaga iman islam kita dan selalu di beri rahmat dan ridlo-Nya baik di dunia maupun di akhirat, amin ya robbal ‘alamin.
di/pada 27 April 2009 di/pada 8:06 am
baguzsszzzzzzzzz bangget
di/pada 6 Juli 2009 di/pada 7:24 am
Wah kudu dibaca nih artikel ini,bagi tmn2 remaja,khususnya, yg blm,sedang maupun telah berpacaran..
Tapi ada satu pertnyaan yg ingin sy smpaikn..ktka gelora cinta itu membara atau ktka kita jatuh cinta kpd lwan jenis kita,apa yg sbaiknya kita lakukan ya??trima ksh atas jwbanx(klo bisa lewat email y)
di/pada 4 September 2009 di/pada 8:44 pm
gw copy y,,,,,,
cz pgn bc tp g skrng.
gpp kn…????
salut gw ma loe.
_thanks 2 before_