AtI BaGuS ALLOH qObUl…


KEINDAHAN YANG HAKIKI

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 17 Desember 2009

Tulisan ini adalah terinspirasi dari dialog salah seorang saudara sepupu saya di TVRI dalam acara Dunia Pesantren yang di tayangkan pada bulan Romadhon th ini (2009), Dalam sebuah uraian dia mengatakan bahwa sesungguhnya ibadah kita pada Tuhan dan ketentuan apapun yang datangnya dari Tuhan adalah keindahan, puasa itu indah, berlapar-lapar itu indah, musibah itu indah, sholat malam itu indah dst, lalu salah seorang penyiarnya bertanya : “Ustadzah, koq bisa sih sholat malam itu di katakan indah, kan lg enak-enaknya tidur trus bangun koq indah sih, berlapar-lapar ketika puasa dan musibah itu indah, itu bagaimana anda bisa mengatakan seperti itu, di mana letak keindahannya?”, dia menjawab, mendekatlah ke Alloh niscaya engkau akan bisa merasakan keindahan itu., tapi sayangnya saudaraku tsb tidak menerangkan lebih rinci ttg arti dari keindahan tersebut yang sekiranya orang awam bisa memahami arti keindahan tersebut, bagaimana cara meraihnya dan apa dampak positif dari keindahan yang dia rasakan itu. Ketika itu suamiku yang pada saat itu sedang menyaksikan acara tsbpun bertanya kepadaku, “apa jawabanmu apabila ada orang yang bertanya tentang hal itu mi ?”, aku terdiam saat itu dan belum bisa menjawabnya, dalam beberapa hari aku merenung dan berfikir untuk menemukan kata yang tepat dalam menggambarkan hal tersebut yang sekiranya orang awam akan langsung bisa memahaminya. Ahirnya setelah 2 hari baru aku menemukan kerangka jawaban yang menurutku cukup gampang di fahami bagi orang-orang awam, aku menyimpulkannya tentu dari pengalaman spiritual pribadiku, yang beberapa bagiannya aku kaitkan dengan beberapa ilmu pengetahuan yang pernah aku baca dan yang pernah aku pelajari.inilah sedikit uraianku tentang keindahan yg di maksud di atas.
Mengapa ada sebagian orang yang bisa memahami ta’abbud dan musibah itu sebagai sebuah keindahan dan sebagian yang lain tidak bisa memahaminya sama sekali ?!, saya di sini akan menjawab pertanyaan tersebut dalam sebuah perumpamaan, yaitu jawaban yang pertama : say menggambarkannya seperti sebuah lukisan abstrak yang sarat dengan makna seni, menurut orang-orang yang sedikit banyak memahami arti keindahan dalam dunia lukisan tentu akan bisa dengan mudah membaca keindahan arti dari sebuah lukisan tsb, tp bagi sebagian lain yang sama sekali awam dalam dunia seni lukis tentu dia hanya bisa melihatnya sebagai sebuah coretan cat yang penuh dengan paduan warna yang tak beraturan, tak jelas apa arti dari lukisan tersebut, begitupun sebuah arti musibah bagi orang yang memahami esensi dari kehidupan dan yang memahami siapa yang berkuasa memberi kehidupan, tentu dia dengan cepat memahami apabila ada sebuah peringatan Tuhan yang muncul dari sebuah musibah yang menimpa dia misalnya, atau di keheningan malam yang begitu syahdu dia rasakan, ketika dia tersungkur lemah bersujud di hadapan sang Kholiq dalam rangkaian qiyamullailnya, dia merasakan keindahan yang tak terkata ketika itu, ketika dia dapat berkomunikasi secara intim dan special dengan Tuhannya, tanpa ada seorangpun yang datang mengganggu kekhusyuan munajatnya atau sholat malamnya, itulah beberapa contoh yang mungkin bisa di fahami mengapa ada sebagian orang yang mengatakan puasa, qiyamullail atau musibah itu indah, iya !, karena orang tersebut amat memahami esensi dari puasa, musibah atau qiyamullail tersebut.
Contoh yang kedua adalah begini : ketika seorang ibu menjalani ritual dalam merawat bayinya atau suami tercintanya, walaupun bagi sebagian orang itu menyusahkan bahkan menjemukan, seperti dia harus bangun malam di tengah lelap tidurnya atau di pagi buta dia harus menyiapkan segala macam tetek bengek kebutuhan rumah tangganya, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya dan dia harus menghempaskan sejuta kemalasan yang sebenarnya seringkali mengganggunya, pertanyaanya, mengapa dia dengan senang hati bahkan bangga bisa melakukan semua itu ?, jawabannya, karena dia melakukannya demi orang-orang yang dia sayangi dan dia cintai ?, tentu kalau tak ada rasa sayang ataupun cinta, mana mau dia melakukan hal-hal yang sebenarnya menyusahkan tersebut. Dari situ kita bisa memahami kenapa qiyamullail atau mendapatkan musibah bagi sebagian orang itu di katakan indah?, karena dia kenal dan mencintai orang yang memerintahkan atau memberi musibah tersebut, tak pernah terlintas prasangka buruk pada yang di cintainya dengan datangnya musibah tersebut atau adanya perintah dari yang di acintai itu yang bagi sebagian orang itu sebuah hal yang amat cukup sulit untuk dilakukan, tapi atas dasar perasaan cinta murni yang dia miliki dia selalu berbaik sangka pada yang di cintainya itu, dan karena cinta itulah kemudian dia mau melakukan apapun yang diperintahkan demi yang di sayangi dan di cintainya tersebut.
Itulah sedikit gambaran menurut saya, mengapa ada sebagian orang mengatakan puasa, sholat, qiyamullail dan ibadah-ibadah lainnya di katakana indah, yah karena dia mencintai orang yang memerintahkan hal tersebut dan karena dia memahami esensi dari perintah atau ketentuan dari Tuhan yang harus dia jalani tersebut sebagai bentuk dari pengabdian dia sebagai seorang hamba yang memang di ciptakan Tuhan hanya untuk beribadah, baik ibadah tersebut berupa ritual (sholat, menunaikan ibadah haji atau semacamnya) dan non ritual seperti bershodaqoh, berbuat baik pada sesama dan semacamnya.
Lalu, bagaimanakah kita bisa mencintai Tuhan ?, salah satu caranya adalah dengan kita mengenali-Nya, bagaimana cara mengenalinya, Rosululloh SAW menggambarkan sebuah metode pengenalan Tuhan dengan cara kita mengenali diri sendiri terlebih dahulu “ barang siapa yang mengenali dirinya niscaya dia akan mengenali Tuhan-Nya” begitulah kurang lebihnya ungkapan Rosululloh SAW dalam sebuah hadist. Jadi, semakin kita mengenali diri sendiri kita akan semakin mengenali Tuhan,. Coba tanyakan pada dirimu “siapakah kamu?”, jawabmu, “aku adalah seorang manusia, seorang makhluq”, kalau begitu adakah yang menciptakanmu?, “ada”, siapa?, “Alloh”, bagaimanakah sesungguhnya kamu, “aku adalah orang yang lemah”, siapakah yang maha kuat?,” Alloh”, begitu seterusnya, semakin dalam kita mengenali diri sendiri semakin dalam pula kita mengenal Alloh, begitu kita semakin dalam dalam mengenali-Nya maka tentulah kita akan semakin mencintai-Nya, dan begitu kita mencintai-Nya niscaya rasa syukur kita, pengabdian dan keimanan kita akan semakin bertambah kuat, insya Alloh, sehingga kita akan merasakan apapun perintah-Nya, larangan-Nya dan segala macam ketentuan dari-Nya merupakan keindahan yang di persembahkan Alloh untuk kita, makhluq-Nya, sehingga rangkaian hari-hari yang di lalui di dunia ini merupakan suatu keindahan yang hakiki, yang tiada terkata dan tiada tara, karena semuanya adalah semata-mata hadiah terindah bagi Tuhan untuk makhluq-Nya.
Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, semoga kita di golongkan menjadi orang-orang yang mencintai Dia tanpa pamrih apapun, amin.

Berjuang Untuk Islam

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 29 Mei 2009

Perjuangan membutuhkan pengorbanan, baik secara moril maupun materil, apalagi pengorbanan demi terciptanya kemuliaan Islam, pantaslah kemudian Rosulullah SAW menggambarkan sebuah perumpamaan tentang hal tersebut bagaikan menggenggam bara di dalam telapak tangan, sehingga melahirkan sebuah dilema, yakni tetap bertahan menggenggamnya akan menimbulkan rasa perih yang tak terperi , akan tetapi sebaliknya kalau di lepaskan niscaya bara itu akan segera padam. Begitulah sedikit gambaran betapa menegakkan kemuliaan islam teramat berat, dan demi mewujudkan semua itu di perlukan keteguhan iman yang prima, kekokohan tekad yang kuat dan ketegaran prinsip yang teruji. Bagaimana tidak, untuk memadamkan kemuliaan Islam tak jarang setan beserta kroni-kroninya akan berusaha semaksimal mungkin dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan cara menawarkan kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan, gemerlap duniawi yang memukau atau kemuliaan yang semu, hingga pada ahirnya yang terjadi banyak manusia yang imannya lemah akan dengan mudah tergiur rayuan-rayuan maut tersebut kemudian mereka meligitimasikan semua perbuatan sesatnya itu, sebagai sebuah keyakinan yang benar.
Kadar keimanan seseorang memang cenderung fluktuatif, tak heran bila ada seseorang yang kemarin pagi begitu gigih memperjuangkan agama Islam dengan menolak berbagai macam godaan terindah sekalipun, tapi pada sore harinya tiba-tiba dia dengan tak berbalut malu membelot dari kebenaran hakiki, dengan tanpa menghiraukan lagi kehormatan dirinya, bahkan dengan lantang menyerukan ajakan pasukan Iblis yang di pertuannnya kepada orang lain. mengapa hal tersebut bisa terjadi ?! dan bagaimana kita bisa mengantisipasi diri kita dari keterpurukan iman seperti itu ?!, semua jawabannya ada dalam hadist nabi yang artinya : “Keimanan seseorang bisa bertambah dengan ketaatan ( patuh pada perintah-perintah agama ) dan keimanan seeorang bisa berkurang dengan kemaksiatan ( perbuatan yang menyalahi aturan agama ), kita bisa mengambil kesimpulan dari hadist tersebut bahwa jika kita menginginkan keimanan yang kokoh maka cintailah perbuatan baik sebagai wujud dari ketaatan kita pada aturan Alloh dan Rosul-Nya, walaupun tentu amatlah berat jiwa seseorang yang pada mulanya sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang di anggap tidak bermanfaat dalam agama tapi kemudian berbalik harus selalu menapaki jalur yang di ridloi Alloh dan Rosul-Nya tapi dengan berbekal tekad kuat, hawa nafsu yang cenderung pada perbuatan burukpun akan bisa di kendalikan walaupun dengan cara sedikit memaksa, tapi pada ahirnya apabila kita sudah terbiasa dan konsisten ( istiqomah ) menjalaninya Insya Alloh akan terciptalah kenikmatan dan ketenangan jiwa, bahkan akan sangat terasa kehampaan jiwa bila kita sesekali meninggalkan perbuatan baik yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari tersebut. Sebaliknya apabila seseorang membiarkan dirinya melakukan perbuatan maksiat maka tak heran jiwanya cenderung susah menerima nasihat bahkan pada perbuatan-perbuatan baikpun jiwanya akan enggan melakukannya, bahkan seluruh anggota tubuhnyapun tak bisa bangkit mendukung bahkan tak ada gairah dalam menjalaninya, ma’adzalloh…
Pada zaman yang serba kesulitan ini, baik kesulitan dalam mencari pekerjaan dan kesulitan dalam berbagai faktor ekonomi lainnya bahkan kesulitan dalam mendapatkan kesempatan baikpun sering menjadi celah yang menyebabkan terkikisnya nilai moralitas dan keimanan seseorang dalam menjalani konsistensi agama dan mensyiarkan ajaran-ajaran Islam. Terkadang ada seseorang yang berpandangan bahwa demi untuk menyelamatkan kelestarian dan keamanan hidup keturunannya maka mereka akan lebih memilih mundur atau membungkam mulutnya dengan tidak berani lantang dalam menyerukan kebenaran dan menentang kemungkaran, mereka bahkan dengan jiwa pengecutnya mengatakan : “biarlah orang lain saja yang berjuang untuk itu, kami akan mendukung mereka walau dalam hati saja”, padahal Alloh telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa umat Nabi Muhammad adalah sebaik-baik umat dengan catatan mereka berada di tengah-tengah manusia sebagai umat yang beriman yang menyerukan pada ornag lain untuk selalu berbuat baik dan menentang kemungkaran. Lalu, yang mejadi problema dalam agama adalah bagaimana bisa islam akan luhur dan akan lebih syiar apabila generasi penerusnya saja mempunyai prinsip memalukan seperti itu, dan bagaimana nasib masa depan agama Islam bila umatnya menjadi generasi pengecut tidak bernyali tangguh dalam membela agamanya atau aset-aset agamanya ( balai pendidikan yang berbasis agama Islam dan umatnya ). Bagaimana dia bisa mencetak kader yang gagah berani dalam membela Islam apabila orang tuanya sendiri berjiwa kerdil seperti itu, padahal yang seharusnya di lakukan adalah meredam segenap ketakutan kepada selain Alloh ketika dia berjuang membela agama Alloh, dengan menanamkan keyakinan bahwa berjuang demi mensyiarkan agama Islam merupakan kewajiban tiap individu yang menamakan dirinya muslim, dan sudah seharusnya dia sejak dini menyadari betapa perlunya menanamkan nilai-nilai perjuangan Islam pada keturunannya demi kejayaan Islam dan umatnya, karena siapa lagi orang yang bisa di andalkan untuk berjuang dalam menegakkan islam selain umat islam itu sendiri.
Idealisme religi seseorang seringkali porak poranda di terjang badai gelombang perasaan hati yang kotor ( iri, dengki, hasud, takabbur dan lain-lain ) di terpa dasyatnya ketakutan semu atau karena himpitan ekonomi.
Oleh karena itu, demi mencapai jiwa yang selalu konsiten pada kebaikan dan senantiasa menapaki alur syariat maka di butuhkan keteguhan iman dengan melatih jiwa agar senantiasa mencintai perbuatan baik dan selalu menanamkan prinsip di dalam jiwanya, bahwa pada ahirnya semua mahluk akan kembali pada Tuhan untuk mempertanggungjawabkan segala bentuk perbuatannya ketika di dunia, karena kehidupan di dunia hanya sementara, kehidupan dunia hanya sebagai sarana merintis kebahagiaan di ahirat kelak dan apapun bentuk kenikmatan dunia tidak akan abadi.
Semoga kita semua tergolong sebagai umat Nabi Muhammad yang terbaik yang selalu mendapat ridlo dan rahmat-Nya karena tetap berjuang demi kemuliaan dan kejayaan islam dan muslimin, amin ya robbal ‘alamin.

Mengapa Lebih Mengutamakan Wanita Yang Beragama ?

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 29 Mei 2009

Peranan seorang wanita dalam rumah tangga sangat penting, baik sebagai seorang ibu maupun sebagai seorang istri. Rosululloh SAW telah bersabda dalam sebuah hadist : “تنكح النساء لأربعٍ: لمالها، ولحسبها، ولجمالها، ولدينها، فاظفَر بذات الدِّين تربت يداك”., mengapa sedemikian seriusnya beliau menggaris bawahi yang paling terbaik adalah wanita yang beragama bukan yang lainnya ?, jawaban di antaranya adalah : karena pendidikan seorang ibu pada anaknya tidak saja ketika sang anak sudah keluar dari rahim sang ibu, akan tetapi bagi seorang wanita beragama mendidik seorang anak di mulai ketika sang ibu sudah positip di nyatakan mengandung, dan dari semenjak itulah doa-doa dan pendidikan untuk anak mulai di terapkan, sehingga untuk berbuat hal-hal yang melanggar norma susila atau norma agamapun dia akan berfikir seribu kali dengan mempertimbangkan perkembangan dan pendidikan anak yang sedang dia kandung. Karena seorang anak, di lahirkan dari siapapun jua pada awalnya seputih kertas putih, jadi yang mewarnai apapun pada anak tersebut pada hakikatnya adalah kedua orang tuanya. Bagi seorang wanita beragama prinsip tersebut sudah tertanam sangat dalam semenjak dia memutuskan menjadi seorang istri bagi siapapun lelaki yang mendampinginya. Oleh karena itu penting bagi para lelaki ketika dia memutuskan akan menikah dengan seorang wanita, hendaknya yang menjadi pertimbangan utama adalah wanita yang beragama, karena wanita tersebut tidak saja kelak akan menjadi istrinya tapi juga akan menjadi bibit cikal bakal keturunannya, juga sebagai seorang pendidik dan suri tauladan bagi anak-anaknya. Tidak cukup sampai di situ. Sebagai seorang istripun perannya dalam mendampingi suami sangatlah penting, dan tentu saja bagi wanita yang mempunyai latar belakang pendidikan agama yang baik akan selalu mengedepankan tuntunan agamanya dalam memutuskan atau mempertimbangkan hal-hal apapun yang berkaitan dengan karir sang suami misalnya, masa depan anak-anaknya atau menerapkan etika ketika bergaul dengan segenap keluarga dan lingkungannya.
Hawa nafsu merupakan salah satu dari sekian banyak musuh yang patut di waspadai bagi siapapun juga ketika mengarungi kehidupan di dunia, baik dalam mengarungi bahtera rumah tangga atau lainnya, seseorang yang beragama pasti tahu akan hal itu dan dengan kendali pendidikan agama yang kuat seorang wanita bisa di harapkan menjadi managemen keluarga yang baik bagi rumah tangganya, sehingga dia bisa mewujudkan sebuah cita-cita yang di impikan setiap pasangan suami istri manapun, yakni dapat menciptakan sebuah rumah tangga yang berlabel “baitie jannatie”, sehingga baik itu suami atau anak-anaknya tak akan berlari menjauh dari rumah mereka ketika menghadapi peliknya masalah di luar rumah, dan mereka akan segera mencari surga dunianya yang teduh, mereka akan mencari kedamaian dari berbagai masalah kehidupan di luar rumah yang mendera, mereka akan segera berlari secepatnya ke rumah masing-masing demi menemukan keteduhan dan kedamaian bagi mereka.
Sungguh, salah satu kenikmatan terbesar di dunia bagi para lelaki adalah ketika mereka bisa mendapatkan sebuah anugerah yaitu mendapatkan istri yang sholihah yang mempunyai latar pendidikan agama yang tinggi. Damailah rumah tangganya, damailah masa depannya, masa depan anak-anaknya dan bahagialah kehidupan dunia ahiratnya.
Semoga tulisan ini bisa sedikit menjadi bahan perenungan bagi para lelaki dan bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para pria ketika mereka akan memutuskan sosok wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Keindahan fisik memang tidak dapat di pungkiri mampu menjadi suplemen dalam kehidupan rumah tangga begitupun masalah harta dan keturunan, akan tetapi cobalah untuk mentaati saran Rosulullah SAW bahwa hendaklah yang menjadi pertimbangan utama adalah wanita yang beragama, bukan lainnya, karena kecantikan seseorang pasti akan pupus seiring bergulirnya waktu, harta pun tak bisa di harapkan keabadiannya dan kuturunanpun hanya sedikit faktor yang tidak berpengaruh besar dalam rumah tangga seseorang, akan tetapi wanita yang mempunyai pengetahuan agama yang tinggi di harapkan akan menjadikan suami tentram dan bahagia baik lahir maupun batinnya dan mampu mencetak generasi penerus islam yang handal.
Bagi para lelaki, kalaupun memang ada dan mungkin bisa di raih alangkah lebih baiknya bila keempat faktor itu kesemuanya terdapat pada sosok calon istrinya yakni, dia seorang wanita yang cantik, kaya, dari keluarga terhormat dan mempunyai latar belakang pendidikan agama yang kuat, sehingga kuat kemungkinan sang suami mampu mewujudkan apapun impian dalam rumah tangganya dengan pendamping yang sempurna tersebut, akan tetapi apabila tidak di temukan keempat kriteria tersebut pada sosok calon istrinya hendaklah yang di jadikan pertimbangan utama adalah seorang wanita yang mempunyai pengetahuan agama yang tinggi, yang paling taat dalam menjalankan prinsip-prinsip agama dan yang mempunyai latar belakang keluarga yang beragama kuat, semua itu salah satu usaha demi mendapatkan sebuah keluarga yang penuh dengan ketenangan, penuh cinta kasih dan amanah dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari baik sebagai ibu bagi anak-anaknya atau untuk mendampingi sang suami ketika mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh dengan berbagai macam problema dalam kehidupan mereka.
Ya alloh, hamba memohon Engkau selalu membimbing dan menolong kami dengan rahmat dan fadhol-Mu agar kami dapat mewujudkan rumah tangga yang penuh kasih cinta, kasih, sayang, kedamaian dan amanat, yang bisa menjadi sarana ibadah kami di dunia demi meniti kebahagiaan di ahirat bersama ridlo-Mu,Allohumma Sholli ‘ala sayyidina Muhammad, amin.

Pacaran Dalam Perspektif Islam

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 17 Februari 2009

           Pada session kali ini kita akan membahas tentang masalah pacaran di lihat dari sudut pandang islam. Pacaran adalah suatu fenomena yang sudah menggejala bahkan bagaikan jamur di musim hujan, yang dilakukan oleh beberapa kalangan terutama lumrah terjadi di kalangan para kawula muda, sehingga terbentuk satu anggapan bahwa apabila ada seorang remaja yang tidak mempunyai pacar sama dengan remaja yang  ketinggalan zaman atau seorang yang tidak laku, sehingga memunculkan sikap saling lomba untuk mendapatkan pasangan, kaum wanitanya mencoba menebar pesona di antara kumbang-kumbang yang berkeliaran, dengan cara berjalan melenggak- lenggok bak seekor burung merak, menebar senyum semanis mungkin  atau dengan cara berpakaian yang di bikin semenarik mungkin, padahal Imam Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah meriwayatkan sebuah hadits yang artinya : “ lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barangsiapa yang meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati “.

          Dan kaum lelakipun tak kalah dalam upaya pencarian pasangan dengan cara menampilkan dirinya bak pangeran dalam  negeri dongeng, atau menggoda dengan cara menawarkan madu cinta yang bakal memabukkan pasangan wanitanya., hingga pada puncaknya keduanya saling memadu cinta atau biasa di sebut pacaran,.

          Pada dahulu kala, berpacaran ala binatang (kenapa saya katakan demikian, karena mereka berhubungan layaknya binatang bukan sebagai manusia yang berakal) kerap di lakukan hanya pada segelintir orang yang minim dalam pengetahuan agama, tapi ironisnya yang terjadi sekarang malah tidak pandang bulu, seseorang yang sangat faham atau  pandai ilmu  agamapun tak jarang melakukan hal yang sama, inikah pertanda kiamat sudah semakin dekat ? , karena kemaksiatan ternyata telah merata, merajalela  dan mewabah di mana-mana.

          Untuk memperdalam pemahaman kajian pacaran dalam perspektif islam, mari kita pelajari   lebih teliti sebuah firman Alloh SWT dalam surat Al-Isra: 32 , yang artinya : “  Dan janganlah kamu mendekati zina ; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk “.

          Dalam keterangan tafsir Nawawi di katakan bahwa : La taqrobuu,  bi ityaani muqoddimaatihi, artinya : yang di maksud dengan “janganlah mendekati “ adalah “janganlah mendekati zina dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi awal permulaan zina”,  dan pacaran merupakan salah satu sarana awal permulaan zina, sebab dalam berpacaran seringkali hasrat birahi seseorang selalu menuntut pemuasannya, baik dengan cara pertemuan atau pergi berduaan, dan bukan hal yang  mustahil pada ahirnya terjadilah perzinaan, padahal Nabi SAW  telah memperingatkan pada sebuah hadist yang artinya : “ janganlah seorang lelaki  berkhalwat ( berduaan di tempat sepi ) dengan seorang wanita, sebab setan akan menjadi pihak ketiga, dan janganlah seorang wanita berkhalwat dengan  lelaki kecuali di temani oleh mahromnya “( HR Imam Bukhari dan Muslim ).

          Memang tak dapat di pungkiri, bahwa sesungguhnya hal yang wajar dan normal apabila ada seorang wanita jatuh cinta pada lelaki, demikian sebaliknya, yang menjadi masalah di sini perlu adanya pemahaman di manakah seharusnya anugerah Ilahi berupa amanat cinta itu di letakkan ? tentu saja untuk keluar dari definisi dholim ( Wadh’u syai-in ilaa ghairi mahallih, artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, ket. Tafsir Jalalain), maka sudah sepatutnyalah seorang muslim mengikuti ajaran islam yakni dengan mempersembahkan cinta yang merupakan sunnatullah tersebut kepada sosok pendamping yang di ridloi Alloh SWT,  yaitu suami atau istri.

          Pada umumnya demi melegitimasi gaya hidup non islami tersebut , seringkali seseorang mengatakan pacaran adalah merupakan suatu hal yang  masih dalam batas kewajaran dan normal, apalagi bila  terjadi di kalangan  remaja yang memang sedang mengalami fasenya, mereka mengatakan ada kemanfaatan dari  semua itu,   bila dikatakan demikian, cobalah untuk  lebih banyak teliti dalam mengkalkulasi  antara manfaat dan mafsadat dari pacaran itu sendiri, seperti contoh : manfaat dari pacaran itu kemudian seseorang mempunyai semangat ekstra dalam menjalani kehidupan, tapi bukankah tak jarang akibat dari pacaran itu pula aktifitas sehari-hari menjadi terganggu, di sebabkan bayangan sang pacar kerap datang menggoda  tanpa mengenal kompromi pada apa yang sedang dilakukan saat itu, baik itu sedang belajar, mengaji, hendak beranjak tidur, mau makan, atau sedang melakukan akftifitas sholat, bahkan afat yang lebih parah lagi bisa terjadi apabila pasangan kemudian mengajak untuk mengadakan pertemuan, berduaan dan terjadilah perzinaan, baik  zina tangan yaitu dengan berpegangan tangan, zina mata yakni memandang lawan jenis dengan syahwat atau adegan-adegan yang lebih tabu daripada itu. Padahal  sebuah hadits Nabi SAW  mengatakan yang artinya : “ kedua mata bisa melakukan zina, kedua tangan itu ( bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina, dan kesemuanya itu akan di benarkan atau di ingkari oleh alat kelamin” (Hadits  sohih  di riwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas dan Abi Huarairah RA). Jadi dalam realitanya pacaran memang lebih banyak sisi negatifnya daripada sisi positifnya, atas dasar itulah kemudian Ulama memandang bahwa pacaran merupakan suatu bentuk kedzaliman atas amanat orang tua yang memerintahkan putra putrinya untuk lebih berkonsentrasi dalam belajar, misalnya terjadi pada pelajar,  dan wujud kedzaliman pada Alloh, karena telah salah dalam mempergunakan amanah umur, anugerah beberapa kenikmatan dan harta, yang semestinya hanya di pergunakan sebagai sarana beribadah kepada-Nya. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat  agamis, berpacaran akan mengundang fitnah bahkan tergolong perbuatan naïf, karena mau tidak mau orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan keislaman dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan ahlak yang berimbas pada kehancuran masa depan sang pelakunya, nau’udzu billahi min dzaalik.

          Untuk itu, marilah kita kembalikan fitrah kita sebagai sosok mahluk  yang mulia, dengan tidak melakukan hal apapun yang menodai kemuliaan fitrah tersebut yaitu perbuatan yang di cela baik secara moral maupun agama, sehingga kita terjerumus ke dalam jurang kehancuran penuh penyesalan.

          Dalam uraian syariat islam sebenarnya Alloh dan Rosul-Nya telah mengatur manusia sedemikian rupa, agar supaya dia dapat menjadi manusia yang seutuhnya manusia, tidak hanya berjasad manusia tapi juga berakhlak dan berperilaku sesuai dengan kodratnya sebagai manusia, karena selalu mempergunakan akal sebagai anugerah istimewa dari Tuhan bukan dengan mengedepankan hawa nafsu sebagaimana binatang. Dalam aturan islam telah jelas baik perintah maupun larangan Tuhan, telah tertata secara konkrit antara yang halal dan yang haram,. Larangan bila di langgar baik secara langsung maupun tidak akan berakibat negatif pada pelakunya begitupun perintah, akan membuat sang pelaku mendapatkan sesuatu yang positif. Sebagaimana pacaran yang merupakan muqoddimah zina bila terpaksa di lakukan maka dampak negatifnya akan di rasakan langsung oleh sang pelaku, ketika masih berada di dunia, di antaranya  berupa gelora hasrat yang terus menyiksa dia karena selalu menuntut pemuasan,  baik  dengan cara  mengadakan pertemuan, pergi berduaan dan lain sebagainya, dan di akhirat kelakpun tentu dia akan mendapatkan siksa Alloh yang amat pedih. Jadi, masihkah kita dengan rela hati akan membiarkan diri kita yang telah  di muliakan Alloh melebihi  malaikat dan iblis karena melakukan hal-hal yang akan merubah diri kita menjadi manusia yang rendah, yakni dengan melakukan  sesuatu hal yang kenikmatannya hanya  bisa di rasakan sesaat saja,  tapi jutru afatnya akan dirasakan dalam  dua alam yakni alam  dunia dan akhirat. Penghormatan Tuhan pada sosok manusia yang mulia hendaknya bisa tetap lestari hingga masa pertemuan dengan-Nya di akhirat kelak, jangan malah justru  lebih tergoda pada sosok lelaki atau bermoral bejad yang mencoba menawarkan madu cinta yang pada hakikatnya adalah racun, cobalah berfikir secara cerdas bahwasanya  lelaki yang berperangai demikian sesungguhnya sosok pria bermoral rendah yang tidak bisa menjunjung harkat kehormatan wanita, tentu saja kalau dia adalah sosok  yang berahlak mulia niscaya apabila dia mencintai seorang wanita, dia akan melegalkannya dengan cara terhormat, sesuai dengan syariat yang di ridloi Alloh dan Rosul-Nya yakni dengan cara mengkhitbah untuk kemudian menikahinya secara islam.

        Jadi, etika pergaulan dalam islam khususnya antara lelaki dan wanita pada garis besarnya sebagai berikut  :

1.  Saling menjaga pandangan antara laki-laki dan wanita, tidak memandang dengan nafsu, tidak boleh    melihat  aurat, tidak boleh melihat lawan jenis, melebihi yang di butuhkan (QS. An-Nuur : 30-31)              2.  Sang wanita wajib memakai pakaian yang sesuai dengan syariat, yaitu pakaian yang menutupi seluruh        tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (QS. An-Nuur : 31)                                                                                3.  Hendaknya bagi wanita agar selalu menggunakan adab yang islami ketika bermuamalah dengan lelaki seperti   :                                                                                                                                                                         Di waktu mengobrol hendaknya ia menjauhi perkataan merayu dan menggoda (QS. Al-Ahzab: 32)            Di waktu berjalan hendaknya wanita sesuai dengan apa yang tertulis dalam surat An-Nuur : 31.

Demikian ajaran Islam menekankan keharaman mutlak  atau murni (harom tanzih) pada masalah pacaran dengan legitimasi dalil berbentuk apapun, berdasarkan beberapa uraian Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sudah kita baca diatas dan keterangan-keterangan  lain yang semuanya tidak dapat saya jelaskan di sini.

          Untuk semua itu marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada Alloh SWT, agar supaya kita selalu di jaga selama-lamanya  dari berbagai bentuk kemaksiatan, selalu dijaga iman islam kita dan selalu di beri rahmat dan ridlo-Nya baik di dunia maupun di akhirat, amin ya robbal ‘alamin.

Melihat Dengan Kebeningan Hati

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 28 Januari 2009

Sebagian besar manusia tidak dapat berfikir secara jernih, walaupun ada pada mereka anugerah ilmu dan akal yang sempurna, penyebab salah satunya adalah karena kebersihan hati yang ternodai, baik dengan adanya sifat-sifat yang tercela seperti iri, hasud, dengki dll. Sehingga kejernihan akal dan ilmu tidak dapat membedakan mana yang benar mana yang salah, atau ketika di hadapkan pada dua pilihan, dia tidak dapat memutuskan mana yang harus menjadi skala prioritas.Bisa pula yang menjadi penyebabnya adalah karena hawa nafsu yang telah menguasai dirinya.
Seringkali akal kita membenarkan bila melihat sesuatu yang salah atau yang akan dilakukan itu sesuatu yang melanggar norma-norma agama, tapi seringkali pula akal kita di kalahkan oleh nafsu, sehingga kita kemudian tidak mau mendengarkan nurani kita yang berkali-kali menganjurkan kita untuk segera meninggalkannya, nurani kita memanggil-manggil untuk kita segera bangkit melakukannya dan nurani kita mengatakan bahwa bila hal tsb di abaikan maka penyesalanlah yang akan kita telan pada ahirnya.
Dapat kita saksikan pada fenomena kehidupan manusia pada umumnya ketika ada pengumuman sembako gratis, pembagian zakat atau sumbangan-sumbangan sosial, akan dengan segera mereka datang berbondong-bondong bahkan sampai nyawapun rela dipertaruhkan demi mendapatkan semua itu, tapi ironisnya ketika ada panggilan adzan, sebagaimana kita ketahui bahwa itu adalah panggilan untuk mendapatkan keuntungan ukhrowi, karena dengan jelas terdengar pada salah satu kalimat pada adzan tsb yaitu : hai’alal falaah… yang bisa diartikan dengan beberapa kalimat : mari kita menuju kebahagiaan, atau kejayaan, atau kemenangan, tapi coba kita tengok tak banyak di antara kita yang menyadari bahwa sebenarnya itu adalah panggilan Tuhan yang di tujukan kepada manusia untuk pembagian kekayaan ahirat, agar manusia selamat dari kepailitan di ahirat kelak atau untuk menjaga manusia dari kemungkaran dan kejelekan karena “ inna ash-sholaata tanha ‘anil fahsyaa-i wal munkar “ (sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar, Al-Ankabut 45), Hanya sedikit dari manusia yang mendapatkan anugerah bisa mendengar panggilan kebahagiaan tersebut sehingga dengan segera dia mengambil air wudlu kemudian berpakaian rapih dan segera menghadap kiblat untuk menuju kemenangan itu, menang dari hawa nafsu, atau menuju kebahagiaan karena dia berbahagia telah menjadi salah seorang yang mendapatkan pahala di sisi Alloh SWT, dan menuju kejayaan, berjaya karena dia termasuk salah seorang yang bergelimang kekayaan di ahirat kelak dengan mendapatkan anugerah rahmat dan ridlo-Nya.
Satu contoh lagi yaitu, ketika ada panggilan untuk belajar ( sekolah atau belajar mengaji-belajar ilmu agama- ), pada hakikatnya itu adalah panggilan untuk seseorang mendapatkan ilmu, ilmu untuk bekal menyempurnakan ibadah, karena ibadah tanpa ilmu sia-sia dan ilmu tanpa ibadah bagaikan pohon tak berbuah.
Anehnya kebanyakan dari kitapun tidak menyadari hakikat hal tsb, dengan berbagai macam alasan kita ringan-ringan saja ketika mengabaikannya, jadi mengapa kalau ada pembagian pahala dan ilmu kita enggan segera menyambutnya tapi kalau ada pengumuman pembagian barang gratis atau pembagian uang dengan segera kita mendatanginya ?, apakah karena mata batin kita sangat tertutup dengan gemerlap duniawi.
Padahal tak sekali Alloh memperingatkan manusia untuk berhati-hati pada hawa nafsu, di antara warning itu terdapat pada surat Yusuf ayat 53 yang artinya : sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.
Memang tak cukup kebeningan hati dapat kita genggam hanya dengan berbekal akal dan ilmu semata, karena tak jarang kita temukan seseorang yang mempunyai akal sehat ataupun mempunyai ilmu yang tinggipun bisa mengabaikan tatanan syariat Tuhan di sebabkan tergoda oleh bujuk rayu syaitan.
Iblis pernah memberikan satu pernyataan sumpah di hadapan Tuhan, ketika dia di usir oleh Tuhan dari surga dan akan menjadi mahluk yang selalu mendapatkan laknat sehingga di ahirat nerakalah tempat yang Tuhan sediakan untuk kediamannya kelak. Saat mendengar kutukan tersebut spontan iblis bersumpah dia akan menjerumuskan semua anak cucu Adam, terkecuali hamba-hamba Tuhan yang berhati bersih atau biasa di kenal dengan istilah ikhlas, keterangan tersebut dapat di baca secara jelas dalam Al-Quran surat Al-Hijr 39.
Hati yang ihlash sangat mungkin di raih bagi orang-orang yang senang berbuat kebaikan (muhsinin), dan orang-orang yang senang berbuat kebaikan mempunyai potensi yang cukup besar dalam mendapatkan rahmat dan ridlo dari-Nya, sehingga bukan hal yang tidak mungkin dengan bekal rahmat dan ridlo-Nya manusia bisa mempunyai hati yang bersih sehingga amal bisa di terima dengan mulus ketika di haturkan di hadapan Alloh SWT yang maha kuasa. Sebagaimana firman Tuhan yang terdapat pada suratAl-‘A’rof 56, yang artinya : “Sesungguhnya rahmat Alloh sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”.
Dengan kebeningan hati, kita dapat melihat secara jelas hal apa saja yang patut kita hindari dan yang harus kita kerjakan.Untuk mendapatkan hati yang bersih sudah barang tentu dengan cara berusaha sekuat kemampuan kita, juga dengan cara memohon (berdoa) pada Dzat yang menciptakan hati. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal tentu kita harus menjauhkan diri kita dari perasaan jenuh, bosan atau putus asa dalam berusaha dan berdoa, karena putus asa adalah musuh keberhasilan apalagi putus asa dalam mengharapkan rahmat-Nya, karena hal tersebut sungguh sebuah larangan keras, seperti firman-Nya yang terdapat pada Al-Qur’an surat : Yusuf 87, Artinya : Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Alloh, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Alloh, hanyalah orang-orang kafir.
Semoga kita senantiasa terhindar dari bujuk rayu syaitan dan di masukkan ke dalam golongan orang-orang yang berhati bersih, minashiddiqiin wasy-syuhada’ wash-shoolihiin, amin.

Bersyukur

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 27 Januari 2009

Selalu bersyukur memang benar-benar tidak hanya mendapatkan kenikmatan yang berlipat ganda tapi  juga ternyata ada jutaan karunia lain terpancar darinya, di antaranya adalah menjadikan jiwa tenang sehingga mewujudkan rasa optimisme dalam menghadapi berbagai macam tantangan dunia. Bersyukur juga mampu memupuskan kesedihan dan keresahan yang mengganggu jiwa sehingga melahirkan semangat hidup yang menyala-nyala.

Dalam menjalani hidup aku selalu berusaha untuk melakukan itu, dalam menjalani titian umur yang semakin hari semakin berkurang kucoba dan terus ku coba menjalani peran apapun yang di takdirkan-Nya, aku berusaha sekuat tenagaku untuk memanfaatkan sisa amanat umur yang Tuhan berikan padaku untuk mengais bekal di ahirat kelak, hingga ahirnya dalam menjalani hidup ini,a ku mencoba menanamkan prinsip sumeleh (mengalir) seperti air, kenapa ?!, karena buat apa aku meronta kemudian mencoba melarikan diri dari semua itu, sudah barang tentu yang aku pilih akan lebih buruk daripada pilihan hidup yang Tuhan tentukan padaku saat itu.Karena ilmuku yang tak seberapa tentang apapun tak akan bisa menandingi ilmu-Nya, bukankah kata Tuhan ” boleh jadi kamu tidak  menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu padahal itu tidak baik bagimu,. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ” ( Al-Baqoroh 216). Berontak dari takdir hanya akan semakin membuat jiwa semakin gelisah dan mengerucutkan rasa putus asa.Ketika tekanan hidup semakin membuatku tak bisa bernafas aku mencoba menghibur diri dengan berfikir seperti ini, dengan untaian doa : semoga saja derita hidup yang sedang aku jalani ini sebagai satu tiket dari Tuhan yang di anugerahkan padaku demi mendapatkan satu posisi kemulyaan di ahirat kelak, jadi aku anggap semua itu sebagai bentuk tirakatku di dunia demi mencapai ridlo-Nya, semoga saja aku lulus karenanya, Aku mohon,  bantu aku wujudkan semua itu dengan ijabah-Mu ya Robb, amin.

Memang, walau tak sekali jiwaku mencoba berontak,  tapi segera aku tekan dan aku hibur dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan religiku, seraya meningkatkan rasa syukurku, dengan cara mengingat-ingat beberapa kenikmatan yang selama ini Tuhan anugerahkan kepadaku dan dengan merenungi betapa banyaknya penderitaan orang lain,yang dosisnya ternyata lebih tinggi daripada aku, hingga ahirnya kemudian mencapai ujung kesimpulan dalam alam fikirku,  duuh.. betapa beruntungnya aku selama ini, dengan keadaan yang aku jalani saat ini . Pertanyaannya, untuk apa aku selalu menyuburkan perasaan-perasaan seperti itu ?, apa faidahnya ?, tentu agar supaya jiwaku lebih tenang.  Hai ?, bukankah berontak dari pilihan-Nya itu tidak saja membuat raga terhina tapi juga menjadikan jiwa ternoda !. So, aku mencoba menikmati apapun peran yang sedang dipilihkan Tuhan untukku dan aku berusa menjalaninya dengan penuh rasa tanggung jawab, walau tak sekali aku mengalami nistanya emosi yang menjadikanku layaknya binatang, karena seakan tak berilmu dan berakal.

Dalam menjalani hidup, aku tak berani memasang target apapun, jadi dalam bercita-cita ku coba selaraskan semuanya dengan takdir yang sedang ku jalani saat itu, karena aku bukan sosok manusia yang siap menerima tantangan dan amarah Tuhan karena telah mencoba menghianati-Nya dengan berpaling dari takdir-Nya.

Semoga saja Tuhan selalu membimbingku, menolongku dan menyayangiku dalam keadaan apapun yang menimpaku, dalam menjalani takdir baik burukku dari Dzat yang maha baik, amin…

 

Peran Ibu Sebagai Pendidik Bangsa

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 15 Desember 2008

Wanita, sudah seharusnya mampu menjaga secara utuh kehormatan yang dia punya, kehancuran sebuah kehormatan yang di porak porandakan oleh fihak lain pada hakikatnya di sebabkan semata-mata karena dia sendirilah yang memberikan kesempatan untuk itu. bukankah di mana ada kesempatan di situ ada jalan ?. Kita ambil sebuah contoh dari sesuatu yang biasa terjadi di tengah-tengah masyarakat kita,  cinta antar remaja misalnya yaitu ketika ada orang lain (pria) yang menawarkan atau menjanjikan keindahan cinta nan semu, oleh sang wanita di sambutlah tawaran tersebut dengan penuh suka cita bahkan demi melegitimasi kemaksiyatan yang dilakukan, di kemukakanlah berbagai macam alasan, di antaranya anggapan bahwa hal tersebut masih dalam batas kewajaran sebagai seorang wanita normal atau sebagai sosok remaja yang sedang mengalami masa nya dst, seharusnya dengan berbekal ilmu dan iman, dia bisa lebih cermat dalam bertindak dan cerdas dalam berfikir, bahwa pria yang menawarkan keindahan cinta yang di laknat itu sesungguhnya seorang pria yang tidak bermoral, yang tidak bisa memposisikan diri wanita sebagai sosok yang perlu di jaga kehormatannya ?!, lalu sebagai wanita terhormat akankah kita dengan rela hati menyerahkan diri kita, cinta kita bahkan kehormatan kita pada sosok serendah itu ?!. Bahkan anehnya tidak jarang kita menemukan justru para wanita sendirilah yang dengan rela hati menjual murah atau menyodorkan kehormatan dan cinta kepada para pria yang sepatutnya tidak pantas menerimanya, yang belum di ridloi Alloh karena dia belum menjadi suami. Dahulu kala hal itu lumrah di lakukan oleh para wanita yang mempunyai pengetahuan agama rendah, tapi ironisnya yang terjadi sekarang justru malah tidak pandang bulu, mereka yang di lahirkan dalam dunia yang kental agamapun bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya melanggar tatanan norma masyarakat dan agama tsb, ma’adzallah… !!!, Lalu mau di jadikan apakah generasi penerus bangsa dan agama ini kelak, jika figur calon ibu sebagai sosok sang pendidik utama berakhlak rendah seperti yang kerap terjadi pada fenomena kehidupan sekarang ini ?!. memang, pada zaman sekarang banyak kita temukan orang-orang pandai tapi anehnya mengapa kebodohan-kebodohan itu masih kerap terjadi?!.

Peran seorang ibu

     Ibu, adalah  sebagai madrasatul ummah begitu lah nabi menggambarkan secara konkrit sosok penting peran seorang Ibu bagi bangsa. Untuk menjadi sekolah sebuah ummat tentunya di perlukan khasanah keilmuan yang tinggi dan kekukuhan   pondasi keimanan demi terwujudnya kwalitas sempurna bagi murid-murid yang menimba ilmu di dalamnya. Sebagai seorang wanita muslimah tentunya tuntutan tersebut menjadi suatu keharusan, karena di tangan merekalah bakal terwujud cikal bakal penerus perjuangan kemulyaan islam dan umat. Bagaimana bisa di harapkan penerus perjuangan islam yang handal jika pada sosok pendidik tidak bisa di jadikan panutan dalam keimanan dan keislaman ?. Di tangan sosok wanitalah akan tercipta kestabilan sebuah bangsa karena wanita berperan sebagai tiang sebuah negara,  jadi kehancuran dan kebaikan  sebuah negara faktor penentu utama ada pada wanita, seperti pada sebuah hadist, nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa :

المرأة عمـاد الـبلاد ان صـلحت فصـلحت وان فسـدت ففـسدت   untuk itu bisa kita simpulkan bahwa andaikan dalam suatu negara moralitas para wanitanya rendah, berarti kehancuran negara tersebut hanya tinggal menunggu waktu saja.

      Sungguh  keliru sebuah paradigma yang mengatakan : tidaklah penting seorang wanita mencari ilmu setinggi mungkin, toh pada ahirnya dia kelak akan kembali kepada habitatnya yakni mengurus urusan dapur semata, justru saya di sini mengatakan sebaliknya, sudah menjadi suatu keharusan bagi wanita untuk mempunyai ilmu yang luas dan tinggi, Untuk apa ? untuk siapa ?, di samping untuk bekal ibadah tentu juga untuk bekal kelak menjadi seorang  ibu sebagai pendidik awal dan utama bagi generasi-generasi penerus bangsa, negara dan agama. Tuntutan tersebut semestinya sudah tertanam di dalam diri seorang wanita jika dia menyadari betapa penting peran utamanya dalam menentukan kebaikan dan kejayaan sebuah bangsa, agama dan negara.  Kepiawaian keilmuan tersebut pada hakikatnya terutama untuk hal-hal yang telah di sebutkan di atas, karena peranan penting seorang ibu dalam pendidikan anak lebih banyak dari pada seorang bapak, di mulai dari kandungan, sesudah melahirkan, menjadi seorang bocah sampai dewasa, bahkan selama hidup tuntutan itu selalu ada, demi membimbing dan menjadi penasehat bagi anak-anaknya dalam mengarungi berbagai macam problematika hidup. Seorang pendidik yang  memahami agama secara baik pasti selalu menanamkan syariat-syariat islam dalam setiap gerak pendidikannya baik ketika dia menyusui, memandikan, memberikan makanan, minuman, berinteraksi dengan lingkungan dan tentunya berperan penting dalam mengenalkan Tuhan dan RosulNya. Sehingga tak bisa di pungkiri dia harus mempunyai bekal keilmuan yang tinggi, keimanan yang teguh, ketakwaan yang kuat dan budi pekerti yang mulia demi terwujudnya cikal bakal penerus yang teruji dalam memperjuangkan kejayaan bangsa, negara dan agama.

     Tidaklah heran bahwa nabi Muhammad SAW telah lebih dini memperingatkan para pria, para calon suami untuk lebih jeli dan teliti dalam memilih calon istri, bisa kita baca pada sebuah hadist beliau :

تنكـح المرأة لأربع لمالها ولحـسبها ولجمالها ولديـنها فاظفر بذات الدّيـن تربت يداك                                                                                               Mengapa demikian ?!, kenapa faktor agama lebih di utamakan daripada faktor lainnya ?, mari kita cermati hadist tsb secara teliti, adalah karena sesungguhnya sang suami ketika memutuskan menjadikan salah seorang wanita sebagai seorang istri tidak saja untuk pendamping dirinya, tapi yang lebih utama adalah karena di tangan sang wanita itulah anak-anaknya kelak akan di didik dan di cetak sesuai dengan impiannya selama ini, tentu menjadi anak-anak yang baik yang mumpuni dalam ilmu dan agama, yang berakhlak karimah. Bukankah wanita yang pemahaman agamanya lebih banyak akan lebih optimal dalam ikhtiar mencetak kader-kader seperti yang di harapkan Itu ?.

     Seorang wanita bisa menemukan hakikat tersebut tentu di perlukan pengenalan yang dalam pada masalah agama, karena dengan mengenal agama lebih dalam, seseorang akan mampu memahami untuk apa seorang wanita di tuntut mumpuni dalam keilmuan. Di  samping keilmuan, ada faktor penting lain yang di butuhkan bagi seorang ibu sebagai pendidik ummat yaitu ketakwaan, keimanan yang teguh dan akhlak mulia, karena dia akan menjadi cermin pribadi bagi murid-muridnya, dengan berbekal Ilmu, iman, takwa dan akhlak mulia dia bisa mempunyai kesabaran ektra dalam menjalankan tugas mulia demi mencetak kader-kader andalan, karena tidaklah mudah mewujudkan semuanya tanpa bekal semua itu.

     Untuk itu, segeralah sadar wahai wanita-wanita muslimah, karena di tangan kalianlah penentuan baik buruk  sebuah bangsa, agama dan negara. Segera enyahkan kemalasan yang menyelimuti diri kalian. Hempaskan sejauh mungkin nafsu-nafsu syaitan yang selama ini bercokol dalam jiwa dan fikiran kalian, kubur dalam-dalam sejarah kelam dunia percintaan kalian yang selama ini di laknat Alloh dan RosulNya, kenikmatan yang ada pada dunia percintaan kalian hanya terdapat pada kulit semata, karena pada hakikatnya derita dunia ahiratlah yang akan di dapat, siksaan dunia yang harus di rasakan karena kalian akan selalu merasakan kerinduan yang  mendalam dan tidak bisa secara maksimal fokus pada pelajaran sehingga  bisa berakibat jiwa kita selalu menuntut untuk senantiasa memenuhi hasrat cinta dan di ahirat kelakpun kalian akan merasakan penderitaan berupa siksaan karena telah melakukan perbuatan durhaka yang tidak di ridloi Alloh SWT, jadi apa keuntungan yang di raih dari kenikmatan cinta sesaat yang di laknat tersebut ?!. segeralah songsong masa depan kalian sebagai calon pendidik umat dengan memperbanyak ilmu, meningkatkan keimanan dan ketakwaan pun dengan belajar menyempurnakan kemuliaan akhlak sehingga kelak kalian dapat menjadi istri sholihah yang di ridloi Alloh dengan bekal ridlo suami dan mampu mencetak kader-kader islam yang handal keilmuan dan keimanan sehingga kalian mempunyai andil yang cukup besar dalam mewujudkan satu kesatuan baldatun toyyibatun warobbun ghofur, juga demi kejayaan islam wal muslimin. Semoga Alloh senantiasa menuntun dan menolong kita untuk mewujudkan cita-cita mulia itu dan selalu tmelindungi kita dari bujuk rayu syaitan beserta koneksi-koneksi dan antek-anteknya, selamanya, amin Allohumma amin…

 

Harapan ditengah Kedzaliman Penguasa

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 9 Mei 2008

Rencana pemerintah yang akan mengadakan proyek besar jalur trans jawa adalah merupakan satu gagasan dan program yang memang menguntungkan kalau di lihat dari segi transportasi & perekonomian,maka sudah selayaknya sebagai rakyat mendukung sepenuhnya adanya proyek tsb, akan tetapi pertanyaannya apakah proyek tersebut sepenuhnya menguntungkan rakyat pula ?!, program-program pemerintah baik di lihat dari segi ekonomi, hukum dan lainnya idealnya adalah kembalinya demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat itu sendiri, tapi sebaliknya apabila proyek tsb yang meraup keuntungan besar justru malah para kapitalis atau spekulan semata dan yang merasakan kerugian justrun rakyatnya, lalu apakah pantas pemerintah harus memaksakan rencana tersebut ?!, yang menjadi masalah di sini ternyata proyek tersebut salah satu jalurnya akan melewati tanah yang di peruntukkan untuk pengembangan pesantren. Cobalah pemerintah berfikir secara cermat dan jernih, segi apa saja dan bagaimana yang perlu di pertimbangkan , apakah itu aspek untung ruginya dari sudut ekonomi atau dunia pendidikan ?!, tentu keinginannyaya tidak di rugikan dua-duanya atau di untungkan dua-duanya, tapi kalau ternyata salah satunya ada yang di rugikan, mana yang harus di pilih ?!, sekedar untuk bahan dasar dalam memilih ialah : bukankah selama ini tidak perlu di ragukan lagi dunia pendidikan yang berbasik pesantren mempunyai kontribusi yang cukup jelas bagi pemerintah, sebab pendidikan dalam dunia pesantren yang lebih di utamakan adalah aspek keagamaan, otomatis bangsa yang lebih memahami agama akan lebih membantu ketentraman dan kesejahteraan negaranya.
Asumsi yang perlu di luruskan
Bagi sebagian orang memangbanyak yg berfikir dangkal, kenapa warga pesantren menolak keras proyek tsb padahal jelas-jelas jalur tsb sedikitpun tidak menyentuh kawasan ( bangunan ) pesantren, hanya melewati tanah-tanah yang tidak berpenghuni, tapi bagi warga masyarakat yang “asli pesantren”,(mengapa saya katakan dalam tanda kutip demikian ?, karena banyak warga masyarakat yang realitanya di lahirkan di lingkungan pesantren tetapi merupakan sekedar tanah kelahirannya saja, memang mereka dari keluarga pesantren tapi tidak mempunyai ruh pesantren, artinya tidak benar-benar memahami esensi dari pesantren itu sendiri ) yang di lahirkan di dunia pesantren yang tiap desah nafas dan gerak tubuhnya di abdikan sepenuhnya untuk pendidikan pesantren pemikirannya tidak serendah itu, bagi mereka pesantren adalah merupakan nafas hidup, harga diri, nyawa dan kehormatan yang harus dipertahankan dan di perjuangkan sepenuh jiwa, karenanya menjaga dunia pesantren berikut sesuatu apapun yang di amanatkan untuk masa depan kelangsungan pesantren itu sendiri merupakan sesuatu yang sama artinya dengan kelangsungan pengembangan agama islam. kalau sampai ada yang beranggapan dengan adanya penolakan tersebut di artikan sebagai salah satu pembangkangan pada ulul amr ( kepemerintahan ) yang kalau di lihat dari segi agama itu terlarang, mengapa mereka sampai melakukannya ?!, bukankah mereka lebih faham dalam hal tsb, perlu di ketahui oleh yang belum tahu atau pura-pura tidak tahu atau yang tidak mau tahu, mereka sama sekali tidak menolak program pemerintah atau membangkang kebijakan tsb, tapi yang perlu digarisbawahi di sini, sekali lagi  mereka sama sekali tidak bermaksud  menentang program-program pemerintah, hanya saja yang di inginkan mereka adalah mengalihkan proyek tsb ke jalur lain demi untuk menyelamatkan amanat leluhur mereka berupa tanah yang di peruntukkan bagi pengembangan masa depan pesantren. Sedangkan yang menjadi alasan utama pemerintah selama ini, kalau proyek tsb di alihkan ke jalur lain salah satu dampak kerugiannya adalah akan menerjang danau yang otomatis dari kalkulasi ekonominya akan merugi, tapi apakah danau lebih berharga daripada dunia pendidikan agama ?!. Pemerintah selama ini sedang gencar-gencarnya meningkatkan dunia pendidikan berikut mutunya dengan mengadakan program bos, UAN dll, bukankah pemerintah lebih baik melestarikan pendidikan yang sudah jelas kontribusinya daripada membangun sesuatu yang masih samar hasilnya. Memperjuangkan kelangsungan pesantren bagi orang pesantren itu sendiri sama halnya seperti memperjuangkan agamanya, artinya agama tidak akan bisa di tebus dengan kompensasi berbentuk apapun juga, dan itu adalah prinsip dasar, bagi orang-orang yang sangat memahami dunia pesantren, yang benar-banar berjuang hanya untuk pesantren !!!, dari situlah tercetus pernyataan mereka bahwa mereka memberikan “harga mati” untuk menolak kawasan pengembangan pesantren di lewati oleh jalur tol cikapa dengan menolak mentah-mentah kompensasi berupa  apapun !.
Perjuangan dan doa
Perjuangan mereka akan terus bergejolak selama nyawa masih tersisa, mereka akan berjuang dan terus berjuang demi agamanya. Mereka berjuang hanya berbekal tekad dan doa bukan untuk mempertahankan status quo seperti yang di suudzonkan oleh sebagian kalangan atau dari segi duniawi lainnya. Silahkan buka mata hati masing-masing agar supaya dapat melihat dengan sejernih-jernihnya apa yang mereka perjuangkan, dengan berbaur bersama mereka misalnya, atau mengadakan dialog secara langsung. Semoga masih tersisa para penguasa yang berqolbun saliim, sehingga dapat pula membantu perjuangan mereka demi menyelamatkan aset pendidikan agama yang selama ini di junjung tinggi, harapan terahir semoga Tuhan berkenan memberikan hidayah bagi orang-orang yang berusaha meruntuhkan persatuan dan ketentraman pejuang-pejuang pesantren, dan para penguasa yang berhati batu yang hanya memikirkan kepentingan pribadinya semata. Pun semoga Dia selalu menolong para pejuang-pejuang agamaNya agar tetap konsisten di jalur yang di ridloiNya, amin. Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar !, Al-Islaam ya’lu wa la yu’la ‘alaih, teruslah berjuang saudara-saudaraku…

*Tulisan ini di muat di majalah Ladunni terbitan pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon edisi Juni 2008

Hidup Hanya Sekali

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 8 Mei 2008

Penderitaan hidup bagiku merupakan satu tiket untuk kebahagiaan abadi di ahirat kelak, buat apa mengeluh kesahkannya, toh semuanya tidak akan bisa berkurang, bahkan seringkali menambah gersang dan gelisah hati, tapi sebaliknya dengan menikmati dan menerima setulus hati akan ada kedamain jiwa yang bisa di rasakan. Hidup ini hanya sekali, begitu kita mati tak akan bisa beramal lagi, karenanya optimalkan sisa umur kita demi memperbanyak amal baik di dunia untuk bekal kehidupan abadi di ahirat kelak, buat apa kita bahagia di dunia tapi menderita di ahirat (ma’adzallaoh), kalau ada orang yang berpendapat “hidup ini hanya sekali, sebentar pula, karenanya jangan sia-siakan sisa  umur ini dengan kesusahan, kecaplah sepuas-puasnya kenikmatan duniawi ini selagi usia masih tersisa ,” sungguh itu paradigma yang amat keliru, adalah pendapat orang yang tidak memahami bahwa pada hakikatnya justru karena hidup di dunia yg hanya sekejap inilah, sudah seharusnya segera diisi dengan sebanyak mungkin perbuatan-perbuatan baik.

Prinsipku  hidup di dunia merupakan amanat dari Tuhan untuk kita beramal sholih, Tuhan memberikan kesempatan umur kepadaku untuk aku siapkan bekal kehidupan abadi di ahirat kelak, kalau kehidupan di ahirat nanti akan abadi bukankah sudah sepatutnya kita mempersiapkan perbekalan yang maksimal agar supaya kelak kita tidak jatuh miskin…

Penderitaan, kegagalan atau kepahitan dalam kehidupan bagiku merupakan satu anugerah yang Tuhan berikan padaku agar supaya aku bisa lebih pintar dalam menjalani kehidupan, dengan melewati masa-masa itu aku bisa semakin dewasa dalam menjalani hidup, aku semakin bisa berempati lebih pada sesama, aku bisa lebih tegar dalam menjalani berbagai macam tempaan kehidupan, aku jadi lebih mengenal-Nya, dan yang membuatku bersyukur adalah karena aku bisa semakin merasa sangat dekat dengan-Nya dan selalu membutuhkan-Nya. Hingga pada ahirnya aku tertumpu pada satu kesimpulan bahwa ternyata manusia, siapapun dia, bagaimanapun dekatnya dengan kita, sama sekali tidak bisa sedikitpun di andalkan, malah seringkali justru mengecewakan diri kita, dia berbuat baik karena sesungguhnya dia mengharap kebaikan dari kita, tapi Tuhan tidak, Dia maha baik yang tidak pernah mengecawakan, dia selalu berbuat baik untuk manusia tanpa Dia sendiri mendapatkan apapun dari mereka, semua semata-mata hanya karena kasih-Nya, Dia selalu ada di saat-saat aku dalam kondisi apapun, ketika aku lalai Dia siap menerima taubatku, Dia maha baik, maha segalanya, karenanya tak sepantasnya aku berharap apapun pada selain-Nya.

Tuhan selalu menuntunku kala aku diliputi kegelapan, ketika aku di rundung sedih dan putus asa, Diapun selalu datang menghiburku dengan janji-janji pada ayat-ayat-Nya. Karenanya aku selalu berbaik sangka pada-Nya bahwa sebenarnya derita yang aku jalani dalam hidup ini sebenarnya satu suplemen untuk kesehatan batinku.
Hidup hanya sekali buat apa kita penuhi dengan keluh kesah yang hanya akan menambah daftar dosa-dosa kita kelak di ahirat kelak, bukankah yang merugi ahirnya kita sendiri ?!, syukuri saja semuanya sebagai anugerah, sebagai nikmat yang terselubung derita, yang darinya sebenarnya kita mendapatkan banyak hikmah, indah bukan kalau kita berprinsip seperti itu ?!. coba kalau kita selalu berkeluh kesah pasti semakin gersang jiwa kita, akan semakin menderita hidup kita,  tapi dengan selalu bersyukur hati akan damai, memandang kehidupan jadi optimis, otomatis akan terpancar dari situ hakikat kebahagiaan jiwa.
Aku selalu berharap agar supaya Tuhan selalu ada bersamaku, membimbingku tetap konsisten di jalan-Nya, istiqomah dalam menyuarakan syariat-syariat-Nya, yang kelak akan aku tanamkan prinsip-prinsip itu pada anak-anakku, bahwa merekalah kelak generasi penerus perjuanganku dalam menyuarakan amanat ajaran-ajaran-Nya. Semoga Tuhan juga bisa membersihkan sepenuhnya kekeruhan hati ini dari berbagai penyakit hati yang akan menggerogoti bekal amal ibadah  untuk kehidupan ahirat nan abadi. Semoga aku bisa selalu melihat sesama dengan pandangan kasih, dengan selalu berprasangka baik pada keburukan yang mereka lakukan padaku, apapun adanya, amin amin amin. .. Allohumma amin.

Anugerah Tuhan

Ditulis dalam Tulisan-tulisanku oleh royannach di/pada 8 Mei 2008

Tuhan Maha segalanya, begitu sempurna Dia mengatur semua untuk mahlukNya, yang dia berikan pada MahlukNya semua untuk kebaikan mahluk itu sendiri, ada surga, neraka, ‘adzab, nikmat. semua untuk kebaikan mahklukNya semata, sendainya hanya nikmat yang Dia anugerahkan pada manusia tentu hidup ini tak terarah, manusia akan terlena karenanya, Dia berikan adzab adalah supaya manusia bisa mengenal jatidirinya sebagai manusia seutuhnya, menjadi benar-benar manusiawi, berkelakuan manusia.sejenak kita bayangkan jika Tuhan membebaskan kita melakukan apapun pasti kita tak ada bedanya dengan binatang, bahkan lebih rendah lagi, karena manusia diberikan anugerah lebih daripada mahluk lain yaitu akal. apapun yang di perbuat manusia buruk atau baik semuanya kembali pada manusia itu sendiri, ketaatan seorang mahluk tak sedikitpun memberikan kemanfaatan pada Tuhan begitupun sebaliknya, ma’shiyyat yang dilakukan mahluq takakan mengurangi atau menodai sedikitpun kesempurnaan Sifat-sifat Tuhan, tidak sama sekali !!!. Kebaikan ataupun kejahatan yang dilakukan manusia semua kembali kepada manusia itu sendiri, pada ahirnya penyesalanlah yang akan mereka dapatkan. Adapun orang lain merasakan kemanfaatan atau merasakan keburukan dari perbuatan tsb, itu hanya seberkas pantulan atau percikan saja, karena yang merasakan akibat yang paling fatal adalah manusia yang melakukan perbuatan itu sendiri.
Jadi untuk apa kita berbuat buruk toh kita sendiri nanti yang akan menanggung akibatnya, maka cintailah perbuatan baik dengan konsisten melakukannya karena kita sendiri nanti yang akan merasakan kemanfaatan dari perbuatan tsb.
Semua yang di kehendaki Tuhan untuk mahluqNyapun pasti itu yang terbaik bagiNya, kalau manusia merasakan pahit dalam menjalaninya itu hanya karena kelemahan dari sifat manusia itu sendiri yang belum bisa untuk menyingkap tabir kemanisan dari takdir yang Tuhan tentukan untuknya, dia harus lebih sering lagi mengkaji kepahitan hidup ( takdir buruk) dengan kebeningan hatinya supaya dia bisa menggali mutiara hikmah yang terpendam di dalamnya, Jangan sekali-kali merasa lebih pintar dari pada Dia, sepahit apapun kehidupan yang di jalani manusia pada hakikatnya adalah sebenarnya kemanisan yang Tuhan anugerahkan padanya, andai saja manusia itu sendiri bisa mengerti makna di balik semuanya, tentu dia akan bersyukur karenanya, tapi itu jarang terjadi, yang seringkali terjadi justru mereka merasa marah pada takdir, bahkan terkadang putus asa karenaya, marah pada takdir sama artinya kita marah pada dzat yang menentukan takdir, pertanyaannya : apakah kita manusia yang penuh kelemahan ini lebih pintar daripada Tuhan ?!, padahal Ilmu kita tak seberapa di banding Tuhan, pandangan mata kita saja sangat terbatas, pendengaran kita ataupun akal kitapun tak beda, tak ada apa-apanya dibanding sang maha Raja, sang maha pencipta, jadi tak pantaslah seorang manusia protes dengan Qudrot Iradat yang Dia tentukan pada mahluqNya. sifat-sifat Tuhan maha sempurna, mustahil ada sifat kurang baginya, jadi jangan sekali-kali meragukan ketentuan (takdir) dariNya baik ataupun buruk, berhusnudzonlah bahwa semuanya terjadi demi kebaikan manusia juga pada ahirnya, kita harus mengimaninya dalam hati sebagai bentuk dari penghambaan kita padaNya seraya mengaplikasikan iman tsb dalam kehidupan manusia sehari-hari dengan segala ketulusan dan kerelaan hati untuk tunduk pada semua perintahNya dan menjuhi segala bentuk laranganNya . Jangan sekali-kali berburuk sangka padaNya, tanamkan keyakinan yang teguh, bahwa Tuhan memberikan ketentuan apapun dalam kehidupan mahlukNya adalah demi kebaikan mahluq itu sendiri, yang pada hakikatnya adalah semua karunia yang sangat patut di syukuri oleh manusia. kemiskinan, kekayaan, kegagalan, kesengsaraan, kebahagiaan adalah pada intinya sama, semuanya Dia berikan pada manusia untuk manusia bisa memaksimalkan anugerah akal yang di berikan, agar manusia lebih sering menggunakannya, bukan dengan nafsu menerimanya yang pada ahirnya akan merugikan manusianya sendiri. Tuhan memberikan adzab supaya manusia tidak berbuat buruk yang membuat dia sengsara dunia ahiratnya, Tuhan janjikan surga supaya manusia mempunyai semangat tinggi dalam berbuat kebaikan, padahal kalaupun Dia tidak menjanjikan surga ataupun kenikmatan lainnya yang diberikan pada hamba-hambaNya yang taat, pun sebenarnya manusia sudah selayaknya memaksimalkan ta’abuddnya pada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang berlimpah yang selalu Dia anugerahkan pada MahlukNya, hanya karena rahmatNyalah kemudian Dia janjikan surga beserta kenikmatannya. Manusia seringkali berbuat durhaka tapi Tuhan masih selalu memberikan nikmatNya, seringkali manusiapun lalai pada Tuhannya tapi tak pernah sekalipun Dia lalai pada mahluk-mahlukNya, bukankah itu sudah cukup merupakan satu bukti bahwa sudah selayaknya kita mengoptimalkan hidup kita dengan beribadah semata-mata hanya untukNya sebagai wujud dari rasa syukur kita ?!. Jadi kurang apalagi bukti-bukti ataupun alasan untuk kita enggan taat pada perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya…
Semoga Dia jadikan kita sebagai mahluq yang ridlo dengan apapun Qodlo QodarNya, sehingga ridlo Tuhan bisa tergenggam untuk kebahagiaan abadi di ahirat kelak bersamaNya, amin.

Halaman Berikutnya »