Seorang hamba adalah sepatutnya bisa menempatkan dirinya sebagai hamba yang sebenar-benarnya hamba, yang tidak berkeingan apapun selain menghamba pada sang Raja yang punya hamba, tidak dengan congkak memprotes apa yang sudah di tentukan oleh sang Raja, karena keilmuan hamba sangat terbatas, jauh di bawah keilmuan sang Raja, jadi tak sepantasnyalah bila seorang hamba berani menggugat nasib, menyalahkan takdir, memprotes kepahitan hidup, bukankah yang menentukan semua itu adalah sang Raja yang keilmuannya tak terbatas ruang apapun, tidak lucu atau bahkan lucukah kalau ada manusia yang merasa lebih mengerti atau lebih tahu daripada sang Raja, padahal keilmuan manusia itupun sang Raja kan yang menganugerahkannya.. ?! dengan lancang mengatakan atau mempertanyakan seperti ini : kenapa saya di ciptakan seperti sekarang ?!, mengapa saya di jadikan hidup seperti ini ?!, seharusnya jika dalam keadaan seperti itu dia tidak saja bertanya dan menyalahkan nasib atau takdir, tapi segera berusaha untuk menggunakan akal yang Raja anugerahkan untuknya, segeralah mencari solusi dari keterpurkan itu, kemudian segera bangkit dan belajar dari kegagalan yang membuat kehidupannya menjadi pahit.
Tuhan menganugerahkan akal dan kesehatan bukan sekedar hiasan atau kepantasan kemanusiaan, tidak sekerdil itu, tapi supaya sang hamba bisa cerdas menghadapi tantangan hidup, mengolah kepahitan menjadi kemanisan sehingga nanti di sisi Tuhan dia damai karena telah menjadi hamba yang sebenar-benarnya hamba.
Tugas seorang hamba hanya mengerjakan perintah sang raja, yakni menghamba atau beribadah, tanpa berkeinginan untuk melakukan lebih dari itu, menjadi sosok apapun, mempunyai profesi apapun dia, seorang ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya, presiden, dokter, penjahit atau diplomat, maka jadikanlah semuanya itu sebagai sarana penghambaan dirinya pada sang Raja, semata-mata hanya untuk menghamba padaNya. Seandainya semua hamba bisa memposisikan dirinya sebagai seorang hamba niscya tak perlu dalam suatu Negara ada undang-undang larangan apapun, karena masing-masing orang akan mengerjakan tugasnya sebagai seorang hamba yang tak pantas untuk berhianat pada Rajanya, Raja yang telah memberinya kehidupan, beragam kenikmatan dan keindahan-keindahan lainnya.
Semoga Alloh SWT selalu menolong kita untuk dijadikannya diri kita ini sebaik-baik hambaNya, amin amin amin. La haula wala quwwata illa billah Al-‘Aliy Al-‘Adziim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s