Tuhan Maha segalanya, begitu sempurna Dia mengatur semua untuk mahlukNya, yang dia berikan pada MahlukNya semua untuk kebaikan mahluk itu sendiri, ada surga, neraka, ‘adzab, nikmat. semua untuk kebaikan mahklukNya semata, sendainya hanya nikmat yang Dia anugerahkan pada manusia tentu hidup ini tak terarah, manusia akan terlena karenanya, Dia berikan adzab adalah supaya manusia bisa mengenal jatidirinya sebagai manusia seutuhnya, menjadi benar-benar manusiawi, berkelakuan manusia.sejenak kita bayangkan jika Tuhan membebaskan kita melakukan apapun pasti kita tak ada bedanya dengan binatang, bahkan lebih rendah lagi, karena manusia diberikan anugerah lebih daripada mahluk lain yaitu akal. apapun yang di perbuat manusia buruk atau baik semuanya kembali pada manusia itu sendiri, ketaatan seorang mahluk tak sedikitpun memberikan kemanfaatan pada Tuhan begitupun sebaliknya, ma’shiyyat yang dilakukan mahluq takakan mengurangi atau menodai sedikitpun kesempurnaan Sifat-sifat Tuhan, tidak sama sekali !!!. Kebaikan ataupun kejahatan yang dilakukan manusia semua kembali kepada manusia itu sendiri, pada ahirnya penyesalanlah yang akan mereka dapatkan. Adapun orang lain merasakan kemanfaatan atau merasakan keburukan dari perbuatan tsb, itu hanya seberkas pantulan atau percikan saja, karena yang merasakan akibat yang paling fatal adalah manusia yang melakukan perbuatan itu sendiri.
Jadi untuk apa kita berbuat buruk toh kita sendiri nanti yang akan menanggung akibatnya, maka cintailah perbuatan baik dengan konsisten melakukannya karena kita sendiri nanti yang akan merasakan kemanfaatan dari perbuatan tsb.
Semua yang di kehendaki Tuhan untuk mahluqNyapun pasti itu yang terbaik bagiNya, kalau manusia merasakan pahit dalam menjalaninya itu hanya karena kelemahan dari sifat manusia itu sendiri yang belum bisa untuk menyingkap tabir kemanisan dari takdir yang Tuhan tentukan untuknya, dia harus lebih sering lagi mengkaji kepahitan hidup ( takdir buruk) dengan kebeningan hatinya supaya dia bisa menggali mutiara hikmah yang terpendam di dalamnya, Jangan sekali-kali merasa lebih pintar dari pada Dia, sepahit apapun kehidupan yang di jalani manusia pada hakikatnya adalah sebenarnya kemanisan yang Tuhan anugerahkan padanya, andai saja manusia itu sendiri bisa mengerti makna di balik semuanya, tentu dia akan bersyukur karenanya, tapi itu jarang terjadi, yang seringkali terjadi justru mereka merasa marah pada takdir, bahkan terkadang putus asa karenaya, marah pada takdir sama artinya kita marah pada dzat yang menentukan takdir, pertanyaannya : apakah kita manusia yang penuh kelemahan ini lebih pintar daripada Tuhan ?!, padahal Ilmu kita tak seberapa di banding Tuhan, pandangan mata kita saja sangat terbatas, pendengaran kita ataupun akal kitapun tak beda, tak ada apa-apanya dibanding sang maha Raja, sang maha pencipta, jadi tak pantaslah seorang manusia protes dengan Qudrot Iradat yang Dia tentukan pada mahluqNya. sifat-sifat Tuhan maha sempurna, mustahil ada sifat kurang baginya, jadi jangan sekali-kali meragukan ketentuan (takdir) dariNya baik ataupun buruk, berhusnudzonlah bahwa semuanya terjadi demi kebaikan manusia juga pada ahirnya, kita harus mengimaninya dalam hati sebagai bentuk dari penghambaan kita padaNya seraya mengaplikasikan iman tsb dalam kehidupan manusia sehari-hari dengan segala ketulusan dan kerelaan hati untuk tunduk pada semua perintahNya dan menjuhi segala bentuk laranganNya . Jangan sekali-kali berburuk sangka padaNya, tanamkan keyakinan yang teguh, bahwa Tuhan memberikan ketentuan apapun dalam kehidupan mahlukNya adalah demi kebaikan mahluq itu sendiri, yang pada hakikatnya adalah semua karunia yang sangat patut di syukuri oleh manusia. kemiskinan, kekayaan, kegagalan, kesengsaraan, kebahagiaan adalah pada intinya sama, semuanya Dia berikan pada manusia untuk manusia bisa memaksimalkan anugerah akal yang di berikan, agar manusia lebih sering menggunakannya, bukan dengan nafsu menerimanya yang pada ahirnya akan merugikan manusianya sendiri. Tuhan memberikan adzab supaya manusia tidak berbuat buruk yang membuat dia sengsara dunia ahiratnya, Tuhan janjikan surga supaya manusia mempunyai semangat tinggi dalam berbuat kebaikan, padahal kalaupun Dia tidak menjanjikan surga ataupun kenikmatan lainnya yang diberikan pada hamba-hambaNya yang taat, pun sebenarnya manusia sudah selayaknya memaksimalkan ta’abuddnya pada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang berlimpah yang selalu Dia anugerahkan pada MahlukNya, hanya karena rahmatNyalah kemudian Dia janjikan surga beserta kenikmatannya. Manusia seringkali berbuat durhaka tapi Tuhan masih selalu memberikan nikmatNya, seringkali manusiapun lalai pada Tuhannya tapi tak pernah sekalipun Dia lalai pada mahluk-mahlukNya, bukankah itu sudah cukup merupakan satu bukti bahwa sudah selayaknya kita mengoptimalkan hidup kita dengan beribadah semata-mata hanya untukNya sebagai wujud dari rasa syukur kita ?!. Jadi kurang apalagi bukti-bukti ataupun alasan untuk kita enggan taat pada perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya…
Semoga Dia jadikan kita sebagai mahluq yang ridlo dengan apapun Qodlo QodarNya, sehingga ridlo Tuhan bisa tergenggam untuk kebahagiaan abadi di ahirat kelak bersamaNya, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s