Pada semilir angin malam, ku titipkan gelora rindu
Yang tiada henti meronta, menyesakkan dada
Pada mentari pagi, ku titipkan pancaran nur segenap rasa
Yang tak jua redup walau waktu semakin menjauh
Pada rembulan malam, ku titipkan elok wajah impian
Yang tak tampak renta di telan waktu
Pada tiap tetes hujan, ku titipkan deras air mata
Yang tak pernah kering membasahi bumi hatiku
Pada deru ombak, ku titipkan gelombang asa
Yang tak kunjung surut menggenangi pantai batinku
Untuk sosok yang begitu lekat merapat
Yang tak pernah sekejappun beranjak dari dunia realiataku
Walau dalam tiap desah nafas, dalam irama sendu detak-detak jantungku,  telah kering perih bibir ini merapalkan bait-bait doa ba’idna ba’idna…
Tapi semua masih tetap utuh seperti tak tersentuh
Tetap seperti semula bagai tak terjamah
Ahirnya, dalam kelelahan jiwa, kepenatan batin
Ku hanya mampu bersimpuh, dalam dekapan senyap malam, di hamparan sajadah ku terisak, merintih, meratap dan berharap pada sang maha sutradara…
Hasbunalloh wani’mal wakiil, hasbunalloh wani’mal wakiil…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s