Perjuangan membutuhkan pengorbanan, baik secara moril maupun materil, apalagi pengorbanan demi terciptanya kemuliaan Islam, pantaslah kemudian Rosulullah SAW menggambarkan sebuah perumpamaan tentang hal tersebut bagaikan menggenggam bara di dalam telapak tangan, sehingga melahirkan sebuah dilema, yakni tetap bertahan menggenggamnya akan menimbulkan rasa perih yang tak terperi , akan tetapi sebaliknya kalau di lepaskan niscaya bara itu akan segera padam. Begitulah sedikit gambaran betapa menegakkan kemuliaan islam teramat berat, dan demi mewujudkan semua itu di perlukan keteguhan iman yang prima, kekokohan tekad yang kuat dan ketegaran prinsip yang teruji. Bagaimana tidak, untuk memadamkan kemuliaan Islam tak jarang setan beserta kroni-kroninya akan berusaha semaksimal mungkin dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan cara menawarkan kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan, gemerlap duniawi yang memukau atau kemuliaan yang semu, hingga pada ahirnya yang terjadi banyak manusia yang imannya lemah akan dengan mudah tergiur rayuan-rayuan maut tersebut kemudian mereka meligitimasikan semua perbuatan sesatnya itu, sebagai sebuah keyakinan yang benar.
Kadar keimanan seseorang memang cenderung fluktuatif, tak heran bila ada seseorang yang kemarin pagi begitu gigih memperjuangkan agama Islam dengan menolak berbagai macam godaan terindah sekalipun, tapi pada sore harinya tiba-tiba dia dengan tak berbalut malu membelot dari kebenaran hakiki, dengan tanpa menghiraukan lagi kehormatan dirinya, bahkan dengan lantang menyerukan ajakan pasukan Iblis yang di pertuannnya kepada orang lain. mengapa hal tersebut bisa terjadi ?! dan bagaimana kita bisa mengantisipasi diri kita dari keterpurukan iman seperti itu ?!, semua jawabannya ada dalam hadist nabi yang artinya : “Keimanan seseorang bisa bertambah dengan ketaatan ( patuh pada perintah-perintah agama ) dan keimanan seeorang bisa berkurang dengan kemaksiatan ( perbuatan yang menyalahi aturan agama ), kita bisa mengambil kesimpulan dari hadist tersebut bahwa jika kita menginginkan keimanan yang kokoh maka cintailah perbuatan baik sebagai wujud dari ketaatan kita pada aturan Alloh dan Rosul-Nya, walaupun tentu amatlah berat jiwa seseorang yang pada mulanya sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang di anggap tidak bermanfaat dalam agama tapi kemudian berbalik harus selalu menapaki jalur yang di ridloi Alloh dan Rosul-Nya tapi dengan berbekal tekad kuat, hawa nafsu yang cenderung pada perbuatan burukpun akan bisa di kendalikan walaupun dengan cara sedikit memaksa, tapi pada ahirnya apabila kita sudah terbiasa dan konsisten ( istiqomah ) menjalaninya Insya Alloh akan terciptalah kenikmatan dan ketenangan jiwa, bahkan akan sangat terasa kehampaan jiwa bila kita sesekali meninggalkan perbuatan baik yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari tersebut. Sebaliknya apabila seseorang membiarkan dirinya melakukan perbuatan maksiat maka tak heran jiwanya cenderung susah menerima nasihat bahkan pada perbuatan-perbuatan baikpun jiwanya akan enggan melakukannya, bahkan seluruh anggota tubuhnyapun tak bisa bangkit mendukung bahkan tak ada gairah dalam menjalaninya, ma’adzalloh…
Pada zaman yang serba kesulitan ini, baik kesulitan dalam mencari pekerjaan dan kesulitan dalam berbagai faktor ekonomi lainnya bahkan kesulitan dalam mendapatkan kesempatan baikpun sering menjadi celah yang menyebabkan terkikisnya nilai moralitas dan keimanan seseorang dalam menjalani konsistensi agama dan mensyiarkan ajaran-ajaran Islam. Terkadang ada seseorang yang berpandangan bahwa demi untuk menyelamatkan kelestarian dan keamanan hidup keturunannya maka mereka akan lebih memilih mundur atau membungkam mulutnya dengan tidak berani lantang dalam menyerukan kebenaran dan menentang kemungkaran, mereka bahkan dengan jiwa pengecutnya mengatakan : “biarlah orang lain saja yang berjuang untuk itu, kami akan mendukung mereka walau dalam hati saja”, padahal Alloh telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa umat Nabi Muhammad adalah sebaik-baik umat dengan catatan mereka berada di tengah-tengah manusia sebagai umat yang beriman yang menyerukan pada ornag lain untuk selalu berbuat baik dan menentang kemungkaran. Lalu, yang mejadi problema dalam agama adalah bagaimana bisa islam akan luhur dan akan lebih syiar apabila generasi penerusnya saja mempunyai prinsip memalukan seperti itu, dan bagaimana nasib masa depan agama Islam bila umatnya menjadi generasi pengecut tidak bernyali tangguh dalam membela agamanya atau aset-aset agamanya ( balai pendidikan yang berbasis agama Islam dan umatnya ). Bagaimana dia bisa mencetak kader yang gagah berani dalam membela Islam apabila orang tuanya sendiri berjiwa kerdil seperti itu, padahal yang seharusnya di lakukan adalah meredam segenap ketakutan kepada selain Alloh ketika dia berjuang membela agama Alloh, dengan menanamkan keyakinan bahwa berjuang demi mensyiarkan agama Islam merupakan kewajiban tiap individu yang menamakan dirinya muslim, dan sudah seharusnya dia sejak dini menyadari betapa perlunya menanamkan nilai-nilai perjuangan Islam pada keturunannya demi kejayaan Islam dan umatnya, karena siapa lagi orang yang bisa di andalkan untuk berjuang dalam menegakkan islam selain umat islam itu sendiri.
Idealisme religi seseorang seringkali porak poranda di terjang badai gelombang perasaan hati yang kotor ( iri, dengki, hasud, takabbur dan lain-lain ) di terpa dasyatnya ketakutan semu atau karena himpitan ekonomi.
Oleh karena itu, demi mencapai jiwa yang selalu konsiten pada kebaikan dan senantiasa menapaki alur syariat maka di butuhkan keteguhan iman dengan melatih jiwa agar senantiasa mencintai perbuatan baik dan selalu menanamkan prinsip di dalam jiwanya, bahwa pada ahirnya semua mahluk akan kembali pada Tuhan untuk mempertanggungjawabkan segala bentuk perbuatannya ketika di dunia, karena kehidupan di dunia hanya sementara, kehidupan dunia hanya sebagai sarana merintis kebahagiaan di ahirat kelak dan apapun bentuk kenikmatan dunia tidak akan abadi.
Semoga kita semua tergolong sebagai umat Nabi Muhammad yang terbaik yang selalu mendapat ridlo dan rahmat-Nya karena tetap berjuang demi kemuliaan dan kejayaan islam dan muslimin, amin ya robbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s