Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Bismillahirrohmanirrohiim, Alhamdulillah wassholaatu wassaalamu ‘ala Rosulillah wa’alaa aalihi wasohbihi waman tabi’ahu waman waalah, amma ba’du.

Sahabat, kita semua tahu bahwasnya Alloh adalah Dzat yg maha baik, dengan demikian tidak mungkin Dia akan berbuat dzolim kepada mahluk-mahluk-Nya, jadi kenapa kita harus merisaukan ketentuan apapun dari-Nya selagi kita mempercayai akan hal itu, seharusnya kita merasa tenang, tidak bersedih dan menekan segala macam prasangka buruk yg akan menodai penghambaan kita kepada-Nya, jika kita telah mengetahui dan meyakini bahwa ketentuan hidup  (takdir) yang sedang kita jalani sekarang adalah Dia yang menakdirkan-Nya, karena tidak mungkin Dia berbuat salah dalam menentukan takdir berbentuk apapun kepada mahluk-Nya, seburuk apapun itu.Dia tidak mungkin menurunkan adzab kepada mahluk-Nya jika bukan mereka sendiri yang menyebabkannya, karena Dia  Dzat yang maha adil, karena Dia Dzat yang maha mengetahui apapun yg tidak di ketahui oleh hamba-hamba-Nya, siapapun itu, Dia Dzat yang maha mengetahui apapun yg samar bagi mahluk-Nya, Dia Dzat yang maha mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan semua makhluk-Nya. Lalu kenapa kita harus merisaukan ketentuan darinya jika kita benar-benar yakin dan percaya bahwa Dia Dzat yang tidak mungkin berbuat tidak adil, bahwa Dia Dzat yang tidak mungkin bersikap pilih kasih, bahwa Dia Dzat yang tidak mungkin berbuat curang, bahwa Dia Dzat yang tidak mungkin berbuat dzolim kepada semua mahluk-Nya. Tanamkan khusnundzon (baik sangka) kepada-Nya, kepada apapun ketentuan dari-Nya baik ataupun buruk, yakinlah bahwa  yang di inginkan ALLOH pada makhluk-makhluk-Nya hanya kebaikan semata yang kesemuanya akan di kembalikan kepada mereka, bukan kepada ALLOH.

ALLOH adalah Dzat yang paling pencemburu, Dia  tidak rela manusia berbuat buruk ( melakukan apapun larangan-larangan-Nya dan Rosul-Nya) kenapa ? karena ALLOH tidak ingin mereka merugi, dan  Dia senang apabila ada manusia yang senang berbuat baik  (taat kepada perintah-Nya dan perintah Rosul-Nya) kenapa ? karena mereka akan mendapatkan kebahagian hakiki sebab orang yang baik lebih berpotensi mendapatkan rahmat dari-Nya.

ALLOH  Dzat yang paling pencemburu melebihi pasangan kita sekalipun, Dia tidak akan pernah memaafkan dosa manusia apabila mereka mencoba menduakan-Nya (kita biasa menyebutnya dg Musyrik).

LAA ILAAHA ILLALLOOH, dalam kalimat itu terkandung makna bahwa kita tidak boleh menyembah siapapun selain diri-Nya, walaupun tak sedikit manusia mempunyai keyakinan berbeda tentang Tuhannya, ada yang berkeyakinan berhala sebagai Tuhan, atau api sebagai Tuhan yang mereka puja dsb, tapi sesungguhnya hanya ALLOH-lah yang berhak di sembah, hanya Dia-lah sebenar-benarnya Tuhan yang sepatutnya di jadikan Tuhan, hanya kepada Dia-lah tujuan kita yang sebenarnya, hanya kepada Dia-lah kita seharusnya meminta perlindungan dan memohon  pertolongan, hanya kepada Dia-lah selayaknya kita berharap dan memasrahkan segala urusan bahkan diri kita sendiripun,  kita juga tidak boleh bersandar kepada siapapun selain Dia, bahkan kepada amal perbuatan kita sendiripun demikian, karena ketentuan manusia masuk surga itupun semata-mata bukan karena amal perbuatan mereka, tapi semua adalah semata karena rahmat dan Fadhol (karunia) dari-Nya. Lulus atau tidaknya seseorang dalam ujian sekolah itupun bukan semata-mata karena dia rajin belajar, kesembuhan penyakit seseorang semata-mata bukan pula karena dokter atau obat yang di minum, adalah ALLOH yang membuat dia lulus, sembuh atau masuk surga atau  terhindar dari  neraka, lalu apa fungsinya kita beramal jika demikian adanya ?, amal baik adalah sebagai bentuk usaha (ikhtiar) manusia untuk mendapatkan rahmat dan fadhol-Nya ( “Sesungguhnya rohmat Alloh sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan (baik  dalam ucapan dan perbuatan)”. Q.S : Al’A’rof  56) dan sebagai wujud dari penghambaan kita kepada-Nya ( “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Q.S : Adz-Dzaariyaat 56), belajar adalah sebagai bentuk ibadah kita kepada-Nya agar lebih mengenal-Nya, lebih mengerti tuntunan syariat dan agar supaya amal ibadah tidak sia-sia karena kita memahaminya secara benar, dan juga sebagai wujud dari ketundukan kita atas perintah Rosul-Nya. Di samping itu orang yang berilmu akan mempunyai derajat mulia di sisi Tuhan dan makhluk-Nya.

Berobat adalah juga sebagai bentuk ikhtiar (usaha) seseorang agar bisa sembuh dari penyakitnya, terlepas dari semua kita harus tetap mengingat bahwa sesungguhnya masuk surga, terhindar dari neraka, lulus ujian, keberhasilan,  kesembuhan dll hanya Dia-lah  yang mempunyai hak penuh atas semua itu, demikian seterusnya.

Jika memang obat/dokter seratus persen bisa menyembuhkan seseorang  kenapa masih ada orang tidak juga sembuh setelah memakai obat yang sama dengan apa yang dipakai orang yang sembuh sebab meminumnya atau sebab berobat kepada dokter tsb ?, jika semua orang yang rajin belajar lulus dalam ujian kenapa musti ada yang tidak lulus dalam ujian (UN misalnya)  padahal dia termasuk murid terbaik di sekolahnya atau mengusai bidang yang dia tidak lulus misalnya, demikian seterusnya, jawabannya adalah karena memang hanya ALLOH-lah yang berkuasa sepenuhnya atas ketentuan apapun bagi makhluk-makhluk-Nya, ketentuan itu sudah Dia tentukan sebelum manusia itu sendiri di ciptakan ( pada zaman azali), dan tidak ada siapapun yang mengetahuinya, kecuali setelah anak manusia berusia 4 bulan dalam kandungan ibunya barulah ALLOH kemudian memberitahukan kepada malaikat-Nya semua ketentuan hidup yang akan terjadi setelah sang manusia itu lahir kelak.

Sahabat, Syarat di terima amal adalah ikhlas, tapi manusia di uji dalam pelaksanaanya dengan adanya beberapa penyakit hati yang bisa menodai amal tersebut seperti riya’ (pamer), merasa cukup dengan amal baik, merasa lebih baik daripada yang lain karena amal baik yang sudah di lakukan (sombong)  dsb, memang itulah tabiat manusia pada umumnya, karena itu jika kita hanya bersandar pada amal perbuatan tanpa mengharap rahmat dan karunia ALLOH maka kecil kemungkinan amal ibadah kita di terima oleh-Nya.

Andaikan tidak karena baiknya karunia ALLOH yang menutupi kekurangan-kekurangan semua amal perbuatan kita, maka tidak akan ada amal perbuatan yang dapat di terima ALLOH, oleh karena itu nyata bahwa di terimanya amal itu hanya karena karunia dan rahmat ALLOH semata-mata, demikian Imam ibnu ‘Athoillah menjelaskan sebuah keterangan dalam “HIKAM”.

Ketenangan batin ketika menerima kenyataan hidup sepahit apapun merupakan satu bentuk kepercayaan (keyakinan dan keimanan) yang utuh dan kukuh kepada ALLOH Dzat yang menentukan, Dzat yang maha baik yang tidak pernah meleset atau keliru  dalam menempatkan ketentuan (Takdir). Kemiskinan yang selalu melilit salah seorang manusia atau mempunyai pasangan hidup atau keluarga yang jauh dari impian bahkan seringkali membuat susah hati misalnya, mungkin itulah salah satu cara yang ALLOH anggap baik bagi dirinya untuk kehidupan akhiratnya kelak ( andai manusia mengerti itu), maka ingatlah !, bahwa keadaan yang demikian itu merupakan salah satu ujian agar supaya di ahirat kelak mendapat rahmat dan ridlo-Nya, sungguh ALLOH tidak pernah sia-sia dalam menentukan musibah pada mahluk-mahluk-Nya,  Seandainya manusia mau menerimanya dengan sabar  maka Alloh akan lebih tingkatkan derajat mereka di sisi-Nya dan jika mereka rela menjalaninya niscaya akan mendapatkan karunia dari-Nya.

Percayalah ! bahwa Dia yang Dzat yang maha baik, yakinlah ! bahwa dia sedikitpun tidak akan berbuat dzolim kepada kita mahluk-Nya, mantapkan tekad di dalam batin kita bahwa Dia-lah satu-satunya Dzat yang maha adil dari yang yang teradil, campakkan jauh-jauh ketakutan dan  kekhawatiran dalam diri kita bahwa kitalah manusia yang paling malang karena ketentuan buruk yang sedang di jalani. Kepahitan hidup bisa kita rubah menjadi sebaliknya dengan tambahan ihlas, rela, sabar dan ridlo akan qodlo qodar-Nya, seperti bawang merah ketika mentah akan terasa tidak enak jika dimakan mentah-mentah tapi akan terasa sedap, beraroma harum  dan enak di nikmati ketika kita menggorengnya dan memadukannya dengan bumbu-bumbu yang lain. Bukankah bawang merah tersebut menjadi makanan yang lezat pada ahirnya ketika kita mengolahnya. Jadi kenapa tidak bisa kita mengolah kepahitan hidup menjadi  suatu kemanisan jika kita berusaha mengolahnya dengan berbaik sangka kepada sang penentu takdir itu ?.

Semoga ALLOH berkenan memberikan keridloan-Nya kepada kita semua dengan keridloan kita akan apapun  ketentuan darinya baik maupun buruk, amin ALLOHumma amin. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad.

Wassalamu ‘alaiukium warohmatullohi wabarokatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s