KH.Abdurrohman Wahid telah tiada. tapi meskipun demikian banyak ilmu yang masih tetap hidup di sanubari sekian banyak orang yang mengenalnya ataupun tidak mengenalnya (mengenal dalam arti kenal, baik secara dekat atau jauh), banyak ilmu yang dapat di serap dari sosok Gus Dur demikian sosok itu kerap di panggil. Beliau  adalah sosok seorang lelaki dengan penampilan yang sederhana tapi kaya dalam wawasan dan keberanian, terutama konsep kemanusiaan dan kasih sayang kepada sesama yang selalu beliau junjung tinggi di atas segala-galanya. Tak banyak orang memahami buah pemikiran beliau begitu juga dengan saya, otak saya yang tumpul dan kurang wawasan ini tak bisa mencerna begitu saja keilmuan yang begitu tinggi yang beliau ajarkan kepada kami, dalam tindakan maupun kata-kata  yang  tak jarang membuat orang terperangah atau bahkan tersenyum ketika di kemas dalam joke-joke yang segar plus menyenangkan, dan  yang paling membuatku terkesima dan terkesan adalah konsep kemanusiaan dan kasih sayang yg beliau junjung tinggi itu. Betapa beliau amat menghormati dan menjaga hak kewajiban kemanusiaan, tak memandang itu siapa, tapi justru dari situlah tergambar dengan jelas dan yata betapa kondisi religi, intelektual dan spiritualalitasnya begitu  stabil dan kokoh, semua  itu bukanlah suatu perkara yang mudah yang bisa di miliki oleh sosok  ulama, seorang pemimpin  dalam suatu komunitas  lembaga apapun akan tetapi golongan lain yang bukan komunitasnya bahkan orang lain yg berbeda asas ideologipun bisa merasakan perlindungan, kasih sayang dan naungannya, beliau adalah sosok seorang bapak yang mengayomi dan melindungi bagi semua manusia dan seorang guru yang banyak memberikan ilmu berupa laku yang  mengejawantahkan suatu  konsep kasih sayang pada seluruh alam tidak memandang suku, ras, kasta atau agama. Sangat sulit memadukan sifat tersebut dalam diri seorang pemimpin apapun apalagi seorang pemimpin dari suatu lembaga islam yang umatnya terbesar di dunia seperti dirinya.
Saya juga menangkap satu kesan yang mendalam dari beliau tentang konsep budaya dan seni juga memang benar-benar harus bisa difahami dalam konsep amar ma’ruf nahi munkar, dalam berdialog atau dalam menerapkan suatu aturan ataupun memimpinpun kita harus mengerti ttg itu agar kita dapat dengan gampang memasukan ideologi2 yg akan kita terapkan pada org lain. Sehingga akan dengan gampang kita meraih simpati, kemudian mendapatkan apa yg kita harapkan pada bibit-bibit ajaran yang kita sebar pada mereka, yang kita harapkan kelak dapat menuai hasilnya, dari situ kita bisa memahami suatu pelajaran yakni apabila kita di takdirkan menjadi pemimpin dlm suatu komunitas, maka yg pertama kali kita harus fahami adalah konsep budaya pada daerah tsb untuk kemudian kita sampaikan visi misi dengan penuh irama seni, agar kita dalam menerapkan satu tujuan dalam komunitas tersebut  akan bisa tercipta satu konsep penyampaian yang jitu dan satu nasihat dalam bingkai yang baik atau biasa dalam bahasa hadist di sebut dengan hasanah, inilah mungkin yang di maksud oleh beliau bahwa dalam mengajarkan suatu kebaikan tak perlu ada kekerasan tapi kita hanya memaparkan baik buruk dari sesuatu yang akan di hadapi untuk kemudian pilihan apapun di serahkan sepenuhnya kepada mereka itulah pengejawantahan dari definisi demokrasi, seperti yang di contohkan Alloh dalam sebuah Firman-Nya dalam surat Al-Kafirun ayat 6, yang artinya “ bagimu agamamu dan bagiku adalah agamaku”, jelas dari ayat tersebut bisa kita ambil sebuah kesimpulan bahwa dalam beragama seseorang di beri kebebasan untuk memilih, tentu tanpa kita kesampingkan ajaran amar ma’ruf (memerintahkan kebajikan) dan nahi munkar (melarang kemungkaran), artinya setelah kita memaparkan kepada orang lain dampak negativ dan positiv sesuatu itu, maka kita tak boleh memaksakan kehendak pada dia untuk memilih, artinya setelah kita berdakwah biarkan otak mereka yang bekerja untuk bisa memilih mana yang harus di lakukan ataukah yang harus ditinggalkan.
Tak jarang memang kita memandang diri kita atau golongan kita lebih baik dari orang lain, dan seringkali pula kita kemudian merampas hak ketuhanan yakni dengan menjustifikasi surga bagi yg baik dan neraka bagi yg berbuat buruk padahal untuk urusan tersebut hanya Tuhanlah yg berhak menghakimi kemudian menempatkan masing-masing manusia sesuai dengan kehendaknya, walaupun memang telah jelas dari keterangan-keterangan yang Alloh sampaikan melalui malaikat Jibril kemudian di sampaikan kepada Rosululloh SAW bahwa orang yang beriman dan banyak berbuat baiklah yang mendapat kemungkinan terbesar untuk bisa masuk ke dalam surga,akan tetapi hendaklah kita tetap tidak selayaknya  mengandalkan amal baik tersebut untuk kepastian surgakah atau neraka, kenapa ?!, karena sungguh, Alloh mempunyai wewenang penuh dalam menentukan hamba-hamba-Nya akankah dia masuk surga atau neraka, semuanya memang sepenuhnya tergantung rahmat dan fadhol dari Alloh semata, wallohu a’lam bis showaab, semoga kita di golongkan sebagai salah seorang makhluk yang berpotensi mendapatkan rahmat dan fadhol-Nya, dan dapat meneruskan perjuangan salah satu hamba terpilih-Nya yakni Gus Dur sebagai seorang yang berani menyuarakan kebenaran dan selalu membela orang-orang yang tertindas, Allohumma Sholli ‘ala sayyidina Muhammad, amin.
Untuk Gus Dur, Allohummaghfirlah warhamh wa’afiih wa’fu ‘anh waj’alil jannah mastwahu, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s