Kejadian demi kejadian yang menimpa kaum perempuan (kasus sumiati atau penganiayaan-penganiayaan yang terjadi kepada para TKW lainnya dll) sekali lagi seakan secara tidak langsung semakin mengukuhkan realiatas dalam kehidupan kita sehari-hari betapa diskriminasi terhadap perempuan memang benar-benar nyata.  Kita tidak bisa hanya sekedar mencari ini salah siapa atau hanya  sebatas menegakkan keadilan atas kasus-kasus tersebut akan tetapi sebaiknya kita juga perlu sedikit introspeksi  diri tentang pola pandang, pola fikir dan pola ajaran yang selama ini ada di tengah-tengah masyarakat kita. Kalau selama ini kita lebih fokus atau lebih banyak mendoktrin para perempuan untuk menjadi istri-istri yang sholihah, patuh dan bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga,maka marilah mulai dari sekarang lebih banyak lagi kita kampanyekan dan lebih sering lagi kita mengingatkan kepada masyarakat umum atau kita tanamkan lebih dalam lagi pada putra-putra/murid-murid putra kita atau lebih sering mendiskusikan lagi bersama teman-teman kita (pria), betapa pentingnya tanggung jawab seorang suami mulai saat dia sudah memgklaim dirinya sebagai kepala rumah tangga, bahkan sebelum dia berniat mempersunting seorang wanita sebagai calon pendamping hidupnya pun hendaklah  mulai saat itu dia harus benar-benar menyadari dan mempersiapkan sejak dini sebagai seorang lelaki yang kelak berkewajiban memikul tanggung jawab  penuh sebagai nakhoda rumah tangga dan sebagai penopang ekonomi anak-anak dan istrinya , oleh karena itu dia harus mengerahkan segenap kemampuan, keilmuan dan seluruh jiwa raganya demi menuhi kewajiban individunya kepada keluarganya sebagaimana kita  seringkali mengingatkan kaum wanita tentang betapa pentingnya kesalihan dan kepatuhan mereka  pada suaminya dan tanggung jawanya sebagai ibu bagi anak-anaknya dan pendamping hidup bagi suaminya.

Dalam pengajian atau kajian ilmu apapun atau pengajaran pada putra-putra kita, marilah lebih sering lagi kita bicarakan tentang tanggung jawab suami sebagai penopang penuh ekonomi keluarga, sehingga akan tertanam sebuah prinsip kukuh bahwa menafkahi keluarga seutuhnya merupakan satu keniscayaan yang harus di lazimi dan bila itu tidak dilakukan maka seperti seorang manusia yang tanpa harga diri!!!  Tentu semua itu tanpa membatasi peran masing-masing pasangan baik sebagai ibu rumah tangga atau sebagai kepala rumah tangga, bila masing-masing melakukannya tanpa keterpaksaan atau karena adanya tekanan, misalnya ketika sang suami dengan kemauan sendiri ingin melakukan hal-hal yang biasa di lakukan perempuan (memasak, mencuci atau mengurus anak) bila dia melakukannya secara sukarela, kenapa harus di halangi ? atau ketika sang istri hendak membantu ekonomi keluarga jika sang suami mengizinkan tanpa ada keterpaksaan dan  sang istri melakukan tanpa adanya tekanan maka tentu tak layak jika kita membatasi secara kaku semua itu, karena pada prinsipnya dalam islam hal-hal yang di larang adalah merupakan perbuatan yang menyakiti orang lain dalam hal ini suami ataupun istri.

Maka mulai saat ini mari kita kampanyekan lebih gigih lagi di samping tentang betapa pentingnya kesalihan dan kepatuhan seorang istri juga tentang tanggung jawab penuh seorang suami dalam menopang ekonomi keluarga dan apabila mereka saling menyadari peran masing-masing sebagaimana lazimnya maka akan terciptalah keharmonisan dalam hubungan sehingga terciptalah sebuah rumahtangga impian yang senantiasa di penuhi suasana sakinah mawaddah dan rahmah, biawnillah insya ALLOH.

Apabila dalam fenomena sehari-hari  kita seringkali menyaksikan para pekerja wanita di mana-mana, tak layak kiranya kita mengkambing hitamkankan sepenuhnya mereka  di sebabkan minimnya toeri qonaah mereka misalnya, sebelum terlebih dahulu kita dobrak sebuah pintu  realita  kehidupan dalam masyarakat kita ini, bahwa betapa selama ini kita kurang menyadari penyebab dari apa yang mereka lakukan itu  mayoritas adalah dikarenakan keminiman etos kerja bagi pasangan prianya sebagai kepala rumah tangga.Oleh karena semua itu marilah kita secara bersamaan memperbaiki  kekurangan yang ada pada pola asuh, pola pikir dan pola budaya kita sehingga ihtiar tersebut kita harapkan sebagai satu bentuk minimalisasi pada diskrimanasi perempuan.

Mohon maaf bila tulisan ini sedikit banyak menyinggung para pria, sungguh ! bukan maksud saya membela para wanita akan tetapi saya hanya ingin berusaha sedikit membuka mata siapapun yang selama ini tertutup oleh adanya ajaran atau budaya yang kurang sempurna, sehingga kita masing-masing senantiasa bisa saling mengingatkan dan membenahi apa yang bisa kita lakukan terutama tentu dari apa yang terdekat dengan kita yakni diri kita sendiri dan anak-anak kita (keluarga). Demikian sekali lagi saya mohon maaf pada semua fihak  atas kelancangan atau ketidak layakan tulisan ini dan terimakasih kepada Tuhan karena telah memberikan sebuah keberanian kepada saya untuk mengunggah tulisan ini, sebuah tulisan yang lama mengendap dalam batin saya dan baru sekarang muncul di karenakan akumulasi keprihatinan saya selama ini atas nasib perempuan terutama karena berbagai tragedi tragis yang sering menimpa para pahlawan devisa (TKW) yang malang itu.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini pasti akan banyak menuai kecaman atau kritikan dari para lelaki, oleh karena itu sekali lagi saya mohon maaf atas semua itu tapi yang pasti saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang saya ungkapkan dalam semua tulisan-tulisan saya tersebut.

IHDINASSHIROOTHOL MUSTAQIM, AMIIN…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s