Tak jarang mayoritas orang berpendapat bahwa dirinya berhak untuk bahagia, maka tak heran jika tak jarang pula kemudian orang-orang saling berlomba mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan cara apapun, dan jika dalam kehidupannya kemudian dia harus bertemu atau bersatu dengan orang yang menurut pola fikirnya tidak bisa membahagiakannya atau tidak pernah berusaha membahagiakannya, maka berpisah merupakan satu-satunya solusi yang menurut dirinya adalah merupakan keputusan yg terbaik yang harus dilakukan.
Jika kita lebih fokus pada satu hal yakni kebahagiaan untuk dirinya, maka tak heran kemudian kita terlupa bahwa dalam kehidupan sosial sebagai manusia disamping ada kewajiban juga ada hak yang harus dipenuhi oleh dirinya terhadap orang lain (keluarga, lingkungan sekitar dsb). Dan hal itu seringkali terlupakan, disebabkan fokus kita hanya pada sesuatu apapun yang sifatnya membuat diri kita bahagia.
Padahal tidak pernah ditemukan standar kebahagiaan bagi siapapun juga, karena dalam realitas kehidupan ada kalanya seseorang yang bergelimang harta, menjadi orang berkuasa tapi dia masih merasa kurang atas apa yang dimiliknya, sementara disisi lain ada yang mendambakan hal seperti itu, padahal dalam dalam kehidupannya ada hal-hal yang menurut orang lain adalah merupakan sesuatu yang diimpikan.
Dalam kehidupan sebuah keluarga, kebahagiaan bagi anak merupakan hal yang paling utama atas segala yang utama, karena anak bagi orang tua bukan saja merupakan amanat dan anugerah akan tetapi anak merupakan aset dunia dan akhirat bagi kedua orang tua. Anak akan menjadi fitnah dunia maupun akhirat jika tidak diperhatikan sejak dini kebahagiaan dunia akhiratnya. Kebahagaiaan yang dimaksud disini tentu merupakan kebahahagiaan yang bersifat mendidik, kebahagiaan yang tidak justru menjerumuskan anak itu sendiri, seperti tidak adanya filter yang baik dalam memenuhi keinginan anak untuk membahagiakannya adalah justru kelak akan menjadi bumerang dan bom waktu bagi orang tua dan bahkan bagi anak itu sendiri.
Oleh karena itu penting kiranya bagi orang tua, untuk lebih fokus pada hal-hal yang membahahagiakan pasangan dan anak-anaknya, karena jika itu dilakukan maka tuntut menuntut antara sesama pasangan akan terjaga, sehingga denga demikian konflik dalam rumah tangga akan bisa lebih diminimalisir. Demikian semoga bermanfaat, ihdinash shiroothol mustaqiim,amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s