Tuhan memberikan demikian banyak kenikmatan kepada makhluk-Nya, sehingga tak terbatas jumlah hitungannya, nikmat lahir maupun batin, keimanan, keislaman, hidup dalam lingkungan yang kondusif, kehormatan diri kita yang tetap terjaga, ilmu pengetahuan yang setiap saat semakin bertambah, alam yang seringkali bersahabat dengan kita, karena kalaupun terjadi bencana alam, tapi itu hanya beberapa kali terjadi dalam kurun waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, kedua mata kita yang setiap saat dapat mengerjap tanpa biaya, telinga dapat mendengar dengan sempurna, lidah dapat mengecap berbagai macam rasa, gigi yang dapat mengunyah makanan sehingga usus terbantu karenanya, hidung yang dapat mencium berbagai ragam aroma, jari-jari tangan yang dapat bergerak dan menekuk dengan sempurna, kaki melangkah membantu kita menuju tempat-tempat yang kita inginkan, kedua tanganpun bergerak dengan sempurna juga untuk meraih berbagai tujuan yang kita impikan dalam kehidupan kita dan seterusnya dan seterusnya, lalu untuk semua nikmat yang tak terhingga itu, yang Tuhan berikan kepada kita makhluk-Nya tanpa terselip kepentingan apapun, sedikitpun dalam pemberian-Nya itu, masihkan kita enggan bersyukur kepada-Nya?.

Tuhan menuntut manusia agar tetap melestarikan kesempurnaan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, dengan menetapkan aturan-aturan yang harus dilakukan oleh manusia dan larangan-larangan yang wajib dijauhi, adalah semua semata-mata kembali untuk kebaikan manusia itu sendiri, sebab dengan perbuatan baik yang dilaksanakan manusia, tidak sedikitpun memberikan nilai tambah pada kesempurnaan Tuhan dan perbuatan dosa yang dilakukan, tidak mengurangi sedikitpun pada kesempurnaan diri-Nya, justru perbuatan baik itu kebaikannya dikembalikan untuk orang yang melakukannya demikian pula perbuatan dosa, kerusakannya yang paling fatal akan dirasakan sendiri oleh orang yang melakukannya. ان أحسنتم أحسنتم لأنفسكم وان أسأتم فلها  : ” Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka itu untuk dirimu sendiri” ( Q.S; al-Isra’, 7).

Untuk semua ragam kenikmatan yang Tuhan berikan pada kita, bahkan seringkali kita terlupa untuk memohon kepada-Nya agar tetap menjaganya atau memberikannya pada kita tapi Tuhan tetap memberikannya, masihkah kita lupa mensyukurinya bahkan ironisnya justru tak sekali kita mempergunakan fasilitas pemberiannya itu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dibenci-Nya!. Sungguh! Mempergunakan setiap pemberian Tuhan sesuai dengan apa yang di kehendaki-Nya merupakan suatu wujud dari rasa terimakasih kita kepada-Nya. apalagi jika dengan kenikmatan yang Tuhan berikan itu kita bisa membagi kemanfatannya pada orang lain.

Masihkah kita gemar menuntut Tuhan sebab ada beberapa kekurangan yang dirasakan dalam kehidupan kita ini atau kehidupan yang jauh dari impian kita? padahal disisi lain seringkali kita melupakan syukur kita kepada-Nya. Atas limpahan kenikmatan dari-Nya, belumlah cukup kita mensyukurinya, walaupun seluruh hidup kita di abdikan untuk diri-Nya, karena itu semua tetap tak sebanding dengan kenikmatan yang Dia anugerahkan untuk kita.

Jadi sudah selayaknya kita lebih mendahulukan syukur dan setiap saat berusaha terus memperbaiki setiap sisi ruang alpa yang telah kita lakukan dalam rangka pengabdian kita kepada-Nya sebagai makhuk, daripada kita lelah di perbudak resah dan gelisah karena terus menerus diburu perasaan tidak puas dengan kehidupan yang tidak sesuai dengan apa yang di inginkan, karena jika kita membiarkan perasaan itu menguasai jiwa kita, maka kita sebenarnya sedang mempersiapkan lubang keterpurukan untuk kehidupan dunia dan akhirat kita, sebab hati yang selalu diliputi perasaan galau dan jauh dari ketenangan merupakan satu bukti nyata bahwa kita telah mengisi penuh jiwa kita dengan hal-hal yang tidak di sukai oleh Tuhan juga merupakan satu tanda bahwa kehidupan kita jauh dari Tuhan, sehingga perbuatan dosa yang dilakukan terus menumpuk dan menutupi mata hati kita yang bersih dan fikiran jernih, hingga itu semua menjadi satu penghalang dari setiap hikmah yang  berusaha masuk untuk mengobati setiap rasa yang datang mengganggu ketenangan batin kita. Itulah mengapa Tuhan seringkali menegur hamba-hamba yang dicintai-Nya dengan berbagai macam cobaan, sebenarnya itu terjadi agar mereka mau kembali ke jalan Tuhan dengan mendekati diri-Nya kala gelisah melanda atau ketika problematika hidup semakin sulit melilit, Allah SWT Dzat yang maha pengasih dan penyayang, memberikan cobaan hidup terhadap hamba yang dicintai-Nya agar senantiasa dekat dengan-Nya dan tak sekalipun melupakan Dia sebagai Tuhan yang menciptakan, oleh sebab itu, cobaan bagi orang mukmin merupakan rahmat karena dengan cobaan itu dia akan kembali dekat dengan Tuhannya bahkan terkadang justru semakin dekat dari sebelumnya dan dengan cobaan hidup tersebut dia akan semakin mawas diri dalam setiap perbuatan yang pernah dan belum dilakukan, akan tetapi justru sebaliknya bagi orang yang tidak beriman, cobaan merupakan adzab bagi dirinya, siksaan dalam kehidupannya, karena seringkali dengan cobaan yang menimpa, membuat moralitasnya semakin terpuruk, keimanannya semakin luluh lantak dan keislamannya terkadang tergadaikan. Cobaan demi cobaan yang terus menerjang hidupnya membuat dirinya semakin jauh dari Tuhannya, cobaan baginya merupakan gerbang kehancuran untuk kehidupan dunia dan akhiratnya dan cobaan merupakan satu kendaraan bagi dirinya menuju penyesalan yang sia-sia, keputus asaan menjadi ujung dari kegelisahannya sehingga kemuliaan dan kesempurnaan dirinya sebagai sosok manusia menjadi ternoda, karena norma-norma kemanusiaan sudah tidak lagi menghiasi dirinya, Allah Yahfadz…

Manusia sebagai makhluk Tuhan, yang paling banyak diberikan fasilitas oleh-Nya sudah selayaknya selalu bersyukur  tanpa batas atas samudera kenikmatan yang tak terbatas ini, tanpa memperdulikan balasan apapun dari Tuhannya, manusia selayaknya hanya pantas berbuat dan terus berupaya melaksanakan secara teliti dan sempurna pada setiap apapun yang diperintahkan-Nya (perintah wajib), lalu melengkapinya dengan perbuatan-perbuatan yang di sukai oleh-Nya (perintah sunah) dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi setiap apapun yang dilarang oleh Tuhan, sebagai bentuk rasa syukur atas karunia nikmat yang tak terhingga dari-Nya. Itulah perbuatan yang dapat melestarikan kesempurnaan dan kemuliaan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s