Allah SWT, adalah satu-satunya Tuhan yang  pantas dan wajib di sembah, tidak ada siapapun yang layak untuk menempati posisi itu, menyembah dalam arti menyerahkan sepenuhnya hidup dan mati kita kepada-Nya, memfokuskan semua aktifitas kehidupan kita untuk-Nya dan hanya karena-Nya, mengisi segenap ruang hati kita untuk-Nya, sehingga jika kita melakukan perbuatan sebaliknya dari itu semua, maka secara tidak langsung dan tanpa sadar berarti kita telah melakukan syirik khafi’ atau menuhankan selain Allah SWT secara terselubung.

Ibnu ‘Atha menjelaskan: “ubudiyyah ada empat perilaku : kesetiaan pada janji, menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah, ridha terhadap apa pun yang di milikinya, dan kesabaran terhadap apapun yang hilang” (Risalah Qusyairiyah, Abdul Karim al-Qusyairi, 230, Risalah Gusti, Suarabaya)

Kerap terjadi dalam kehidupan keseharian adalah, tanpa terasa kita seringkali terlalu memuja dan mempunyai kekhawatiran yang sangat dalam pada pasangan hidup kita (suami atau istri), setiap saat yang ada dalam benak kita adalah dia dan selalu tentang dia, hampir seluruh hati dan jiwa terpasung hanya memikirkan dia, doa-doa yang dipanjatkan hanya terfokus pada dia, karena ketakutan yang maha dahsyat akan kehilangan dia, dia pergi meninggalkan kehidupan kita atau berpaling pada orang lain selain kita sebagai pasangan hidupnya, semua aktifitas keseharian kita hanya terfokus pada pengabdian kita terhadapnya, segala sesuatu dilakukan semata-mata hanya demi membahagiakan dia, atas dasar harapan yang mendalam agar dia membahagiakan kita dan mencintai kita selamanya, kita berbuat baik, mencurahkan segenap jiwa dan pengorbanan untuk dia, dengan harapan dia tetap menjadi milik kita selamanya, baik cinta maupun hatinya, jiwa dan raganya, sehingga tak mengherankan jika suatu saat dia berpaling atau pergi dari kehidupan kita, maka hancur luluh keimanan dan kehidupan kita sebab realita pahit itu. Sungguh ! perbuatan yang telah kita lakukan tersebut, menyebabkan diri kita terjerumus kedalam jurang kehancuran dan kehinaan yang telah kita gali sendiri, Karena tanpa sadar sebenarnya kita telah menuhankan orang lain selain Allah SWT dan itu adalah sebuah kekeliruan besar sehingga dalam hidup kita telah melakukan perbuatan sia-sia yang kelak akan berbuah penyesalan yang sia-sia pula, karena hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan yang pantas dan berhak di sembah dan dituhankan sebagai Tuhan. Hanya Dia satu yang pantas menerima pengorbanan kita sebagai makhluk-Nya, hidup mati kita hanya satu untuk-Nya dan demi Dia.

Mengabdi kepada pasangan harus dilakukan, berbakti kepada kedua orang tua harus di laksanakan dan merawat anak-anak kita wajib dilakukan sebab itu merupakan perintah Tuhan dan menjaga amanat yang dititipkan Tuhan kepada kita, sehingga bila dalam realitas terjadi, misalnya nanti pasangan kita, orang tua kita atau anak-anak kita memerintahkan atau mendorong kita untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Allah SWT maka tidak ada kewajiban lagi bagi kita untuk mentaatinya atas dasar menyenangkan dia atau demi membahagiakan hidupnya, karena mematuhi, mengabdi dan mencurahkan segenap perhatian kita terhadap pasangan, anak-anak atau orang tua harus dilakukan hanya demi menjalankan perintah Tuhan, bukan karena mereka.

Segera enyahkan dari hati kita perasaan hina dan perbuatan nista karena mengabdi pada manusia atas dasar manusia itu sendiri, bukan demi mentaati apa yang Tuhan perintahkan, belajarlah untuk melepas pelan-pelan ketergantungan hati kita pada pasangan, karena itu hanya akan melahirkan keresahan dan kegundahan, untuk menemukan ketentraman jiwa, tuangkan sedikit demi sedikit setiap ruang kosong dalam hati kita dan dalam jiwa kita, cinta sejati, cinta pada Tuhan, setiap desah nafas yang terhembus, setiap anggota tubuh ini tergerak, demi Dia dan hanya untuk Dia semata, Allah SWT, Tuhan sang Pencipta seluruh alam beserta isinya, sehingga jika suatu saat pengabdian dan pengorbanan yang kita berikan pada pasangan di balas olehnya dengan penghinaan atau kepahitan, tak akan kita merasa kecewa atau sakit karenanya, sebab pada hakikatnya semua yang kita lakukan untuknya sesungguhnya hanya dipersembahkan untuk Tuhan Dzat yang maha Agung, karena pasti Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap perbuatan baik, sekecil apapun, jadi perbuatan buruk yang dilakukan oleh pasangan kita  tak menyisakan bekas luka sedikitpun di dalam jiwa kita. Kalaupun Dia tidak membalasnyapun sebenarnya tak mengapa, sebab sebagai manusia bukankah telah banyak kita menikmati berbagai fasilitias nikmat yang Dia berikan kepada kita, dan atas limpahan nikmat itu kita layak bersyukur kepada-Nya dengan cara menjalani semua perintah-Nya dan menjauhi apapun yang di larang oleh-Nya.

Belajarlah menanamkan tekad kuat dalam dada kita bahwa, hanya Dia (Allah SWT) satu-satunya yang pantas menjadi acuan, landasan dan motivasi kita dalam melaksanakan setiap aktifitas positif dan menjauhi apapun perbuatan negatif, hanya demi Dia semata tidak selain Dia. Karena Dia-lah Tuhan kita, dan karena untuk itulah kita diciptakan.

وماخلقت الجنّ والأنس الا ليعبدون  “Dan aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Q.S; adz-Adzaariyat, 56)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s