Merayap pelan bersama malam, sambil menikmati nafas lembut putriku yg bersandar di lenganku, rasanya baru kemarin tangismu pecah lalu membangunkan tidurku atau mengalihkan aktifitas harianku lalu aku sibuk mencari makna dari tangisanmu, popokmu basah, ada semut yang menggigit halus kulitmu, kau ingin minum susu ataukah kau tengah merasakan sakit? menjadi ibu tak semudah yang diucapkan nak, perlu banyak belajar dalam setiap detik, tentang perubahanmu yang demikian cepat dalam tiap detik menit dan dari hari ke hari, ibu harus pandai belajar memaknai apa arti dari setiap tangismu, keinginanmu, bagaimana menjaga kesehatanmu, makanan apa yang cocok untukmu, obat apa yang tepat untukmu saat sakit mendekatimu, lalu belajar memahami setiap kemauanmu, dari kata-katamu yang belum jelas terucapkan. Ibu perlu banyak belajar padamu nak, belajar menjadi seorang ibu bagimu, misalnya tentang bagaimana memberikan pemahaman saat kau harus membiasakan diri makan atau memberi atau menerima sesuatu dengan tangan kanan, atau mengajarkan padamu dimana seharusnya kau buang air kecil atau air besar di tempat yang benar, atau memberi pengertian padamu saat empeng dari karet itu sudah harus kau lepas. Nak, ibu ingat saat masa-masa sulit kita, semalaman ibu menggendongmu, membujukmu agar kau rela melepas kebiasaanmu ngempeng agar tidak berlanjut hingga usiamu besar, hingga subuh kau tidur dipangkuan ibu, karena kau selalu gelisah jika teringat empeng itu, didepan pintu keluar dirumah nenek semalaman ibu memelukmu, menghiburmu hingga pagi harinya kau nyenyak tidur dan masih berada di pangkuan ibu dan masih di depan pintu itu, tapi akhirnya kita bisa lewati masa sulit itu, kemudian secara pelan namun pasti kau sudah mulai terbiasa tidur tanpa empeng itu..saat itu ibu susah memberika kefahaman kepadamu tentang kemauan ibu saat itu, ibu juga merasakan betapa sulitnya kau harus membiasakan dirimu tidur tanpa ditemani empeng karet dimulutmu, yang membuat tidurmu lelap. setelah masa itu terlewati masih jua ibu harus tetap banyak belajar, saat kau memasuki usia sekolah pra TK, teringat kala itu, saat pertama kali masuk sekolah, karena tidak terbiasa dengan suasana baru dan orang-orang baru, awalnya kau takut berkumpul teman-temanmu, sampai pelajaran selesai tak lepas kau tetap berada dipangkuan ibu, namun secara pelan-pelan ibu lepaskan kau dari pangkuan untuk berani duduk sendiri namun masih tetap kau disamping ibu, selanjutnya setelah terbiasa duduk sendiri, ibu antarkan kau untuk berani duduk bersama dengan teman-temanmu, namun sesekali kau masih mencari ibu, karena itu ibu masih berada diruang kelas untuk membuat perasaanmu nyaman, untuk membuktikan bahwa ibu masih disitu menemanimu, setelah beberapa hari ibu lalu mulai mencoba membuat kamu berani sendiri tanpa ibu, untuk bersama-sama temanmu di dalam kelas, ibu berada di luar kelas dan sesekali kamu lari keluar mencari ibu, dan saat kau temukan ibumu masih berada di luar menemanimu, lalu kau berlari kembali kedalam kelas untuk bersama guru dan teman-temanmu, beberapa hari kemudian ibu lalu keluar dihalaman sekolah, menunggu kau sammpai pulang sekolah dan dari situ kau mulai berani sendiri di kelas tanpa ibu dan mulai saat itu kau terbiasa di temani si mbak berangkat sekolah, karena pada jam yang sama ibu harus berjuang (berjihad) berbagi ilmu dengan orang lain, nak kita berjuang (berjihad) dengan jalan dan cara masing-masing yah… begitu selalu ibu katakan ketika kau bertanya “kenapa sekarang ibu tidak lagi mengantar Lana sekolah ?” hingga kini kau kelas dua SD, ibu mulai lebih kerepotan dalam memahamimu, saat usiamu bertambah disaat itu pula ibu bagaikan seorang pelajar yang harus kembali membuka buku baru yang sebelumnya belum pernah dibaca dan dipelajari, kau yang tak lagi bisa di atur dalam berpakaian, dalam hal apapun, sampai gaya rambutpun kau sendiri yang mengaturnya, kau yang kini mulai banyak berimaginasi dengan apapun, dengan batu yang kau anggap sebagai mahluk hidup, atau bola yang baru kau beli lalu setiap mandi dia juga harus ikut mandi dan tidur disampingmu dengan tisu sebagai selimutnya, lalu kamarmu mulai penuh dengan mainan-mainanmu, yang satu persatu kau beri nama, batu yang kau beri nama minion dan miniyin, atau bola dengan nama fredi dst, kamar yang dulu bersih dan wangi kini berubah menjadi ramai oleh berbagai mainanmu, kadang kau menjadi guru bagi teman-teman bermainmu, terkadang kau menjadi jagoan di antara mereka, atau kau ajak mereka nonton tv bersama-sama dengan bangku masing-masing yang kau tata rapi di atas bantal, benar-benar pusing ibu dibuatnya setiap melihat kamarmu yang bagai kepal pecah dengan mainan yang ramai terlihat disetiap sudut kamar, tapi ibu biarkan semua berjalan sesuai apa maumu, karena ibu tau dari caramu bermain sekaligus disitu pula kau temukan banyak pelajaran, dari imajinasimu kau banyak belajar tentang banyak hal, terkadang kau berikan hadiah ibu sebuah buku dari kertas-kertas polio ibu yang kau steples sampingnya, lalu kau lukis berbagai macam gambar di situ, atau kau buat buku cerita dengan versi ceritamu dan tulisan tanganmu yg sederhana, atau buku masak, kau bilang “ini buku masakan untuk ibu, karena Lana tau ibu suka masak kan?” ibu terima buku itu dengan hadiah pelukan dan terimakasih, walaupun ibu tau didalamnya tidak terdapat tulisan lengkap yang layak di baca, namun itu tetap ibu hargai sebagai karyamu, karya seorang anak sesuai usiaamu, saat kau bermain secara bersamaan pula ibu mengamatimu seraya berusaha meraba apa bakatmu? apa minatmu? namun kau terlalu cepat berubah hingga ibu sulit mendefinisikannya, terkadang kau menjadi seorang penulis, pembaca cerita, pelukis dst, namun yang banyak terbaca oleh ibu, minatmu dalam mebaca dan mendengar cerita itu amat tinggi. Nak, walau kamarmu sering membuat ibu terperangah karena hebohnya mainanmu, namun yang ibu bangga darimu, kau ternyata sudah sangat pandai membereskan kamar, bersih, rapi dan teratur sekali, pertama melihat kemampuanmu, sungguh ! ibu dan ayahmu hanya terpaku dan terpana karenanya, anak sekecil ini bisa membersihkan kamar dengan sangat sempurna, seperti orang dewasa! padahal hanya beberapa kali ibu ajak kau belajar membersihkan kamar, karena saat itu ibu lelah memintamu untuk keluar kamar saat kamar tengah ibu bersihkan, ibu berfikir daripada kau terus mengganggu lalu ibu mengajakmu untuk membantu namun ternyata yang membuat ibu suprise dari situ kau banyak belajar, belajar tentang bagaimana cara membersihkan kamar yang baik dan benar. Nak di samping kau banyak belajar dari ibu, ibu juga banyak belajar darimu, belajar menjadi orang jujur, punya komitmen, rajin, bertanggung jawab, konsisten dst, karena jika tidak demikian maka tentu kau akan protes keras lalu mengkritik ibu habis-habisan tentang pelajaran-pelajaran karakter yang berusaha ibu tanamkan padamu, bagaimana tidak, ketika ibu ajarkan jujur padamu otomatis sebagai guru, ibu juga harus jujur, ketika ibu katakan padamu kau harus menjadi orang yang rajin, tentu secara otomatis dalam perbuatan, ibu juga harus contohkan itu, agar kau mentaati apa kata ibu. teringat dulu saat ibu tak jua berani belajar naik motor, kaulah satu-satunya orang yang mensupport ibu agar berani, katamu saat itu “ menyetir mobil yang besar saja ibu berani, kenapa hanya sekedar motor kecil ibu takut, yang lain bisa ibu pasti juga bisa” yessss… lalu ibu beranikan diri karena supportmu itu dan dari situ ibu bisa ! terimakasih nak… namun demikian ibu masih harus terus belajar kepadamu, ibu harus terus belajar bagaimana menjadi ibu yang baik dan bisa kau banggakan kelak olehmu juga anak cucumu, sebagaimana sekarang ibu bangga dan bahagia terhadap nenek dan kakekmu, ibu harus banyak belajar darimu agar menjadi ibu yang baik yang bisa membimbingmu dan mengantarkanmu menjadi orang baik, nak mari bersama kita berdoa agar kita semua, ayah ibu dan kau mendapat pertolongan dari Tuhan agar menjadi orang baik, berbudi pekerti baik, selalu di bimbing-Nya dan senantiasa diberi ilmu oleh-Nya agar ibu dapat membimbingmu dengan cara dan bahasa yang baik dan saat pengajaran itu kaupun mampu memahami bahwa pada saat ibu memarahimu sehingga itu membuatmu kesal, kamu harus mengerti bahwa dengan itu bukannya ibu tidak sayang terhadapmu, tapi sebenarnya itu karena ibu amat sangat menyayangimu,bahkan teramat sangat, kita saling menyayangi bukan? maafkan ibu dengan kekurangan ibu yang berlimpah saat mendidikmu, membimbingmu yang seringkali membuat kau kesal atau marah, maafkan ibu nak… semoga Tuhan berkenan mengabulkan semua doa kita, selamat tidur nak, lelap tidurlah hingga esok hari kau terbangun dengan fisik dan jiwa yang sehat dan bahagia lalu kita kembali bisa berbagi kasih, ilmu dan cinta bersama-sama…. menyongsong masa depan dengan senyum bahagia, selamat tidur anakku sayang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s